Mata Uang Global Variatif Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Dolar Menguat

Mata Uang Global Variatif Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Dolar Menguat

Ekonomi | idxchannel | Senin, 2 Maret 2026 - 09:44
share

IDXChannel - Euro melemah, franc Swiss menguat, dan dolar melonjak pada Senin (2/3/2026) di tengah krisis Timur Tengah usai eskalasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.

Melansir Reuters, Franc Swiss naik sekitar 0,2 persen menjadi 0,7674 per dolar dan melonjak 0,6 persen terhadap euro ke 0,9030, level terkuat sejak 2015.

Sementara Euro turun 0,3 persen menjadi USD1,1781 dan yen sempat menguat, namun tertahan oleh besarnya impor minyak Jepang, dan terakhir diperdagangkan sedikit lebih lemah di 156,32 per dolar AS.

Pound sterling dan dolar Australia merosot lebih dari 0,5 persen, sementara yuan China turun sekitar 0,2 persen dalam perdagangan offshore, mengingat China merupakan importir energi sekaligus pembeli utama minyak Iran.

"Tidak ada yang tahu berapa lama ini akan berlangsung, seberapa tinggi harga minyak akan naik, atau berapa lama Selat Hormuz akan ditutup,” kata analis BNZ di Wellington,  Jason Wong.

Menurutnya, reaksi awal menunjukkan penghindaran risiko yang masih terbatas, sehingga pasar masih akan mencermati perkembangan ke depan.

Militer Israel menyatakan angkatan udaranya menewaskan Khamenei, dan kematiannya pada usia 86 tahun dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, memicu persaingan suksesi berisiko tinggi.

Serangan berlanjut hingga Minggu dan Iran membalas, dengan Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris, sementara ledakan dilaporkan terjadi di atas Dubai dan Doha.

Harga minyak menjadi fokus utama pasar dan melonjak sekitar 9 persen pada awal perdagangan Senin akibat gangguan terhadap perdagangan laut.

Mata uang negara pengekspor seperti Kanada dan Norwegia relatif stabil pada awal sesi Asia.

Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun 0,7 persen menjadi USD0,7065, meskipun para trader memperkirakan tekanan yang lebih bertahan lama kemungkinan akan dirasakan oleh negara-negara pengimpor energi.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik