Selat Hormuz Lumpuh Buntut Konflik Iran, Pasokan LNG Global Terancam

Selat Hormuz Lumpuh Buntut Konflik Iran, Pasokan LNG Global Terancam

Terkini | idxchannel | Minggu, 1 Maret 2026 - 15:50
share

IDXChannel - Eskalasi konflik di Iran membuat Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan liquefied natural gas (LNG) terhenti.

Melansir Investing, Minggu (1/3/2026) sedikitnya 11 kapal tanker LNG utama menghentikan pelayaran mereka. 

Raksasa pelayaran Jepang, Nippon Yusen Kabushiki Kaisha dan Mitsui OSK Lines Ltd, bahkan memerintahkan armadanya untuk menunggu di perairan aman.

Hal ini memicu kekhawatiran terblokirnya sekitar 20 persen pasokan LNG global yang selama ini melintas di selat sempit tersebut. 

Tidak seperti minyak mentah, LNG dalam jumlah besar khususnya dari Qatar tidak dapat dengan mudah dialihkan melalui jaringan pipa alternatif.

Dampak paling cepat dirasakan oleh pembeli Asia. China, India, dan Jepang importir utama energi Qatar dilaporkan berlomba mencari kargo pengganti di pasar spot. Para trader melakukan negosiasi darurat untuk mengamankan pasokan jangka pendek di tengah pasar yang sudah ketat.

Pelaku pasar memperkirakan lonjakan harga spot LNG berpotensi signifikan, mengancam stabilitas harga energi global yang relatif terjaga sepanjang tahun lalu.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar spot. Banyak kontrak LNG jangka panjang terindeks pada harga minyak mentah. Jika harga Brent melonjak seiring eskalasi konflik, biaya gas dalam kontrak yang sebelumnya aman pun akan meningkat tajam. 

Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh rumah tangga maupun sektor manufaktur yang bergantung pada energi. Krisis ini juga memicu risiko teknis pada sisi produksi. 

Fasilitas LNG membutuhkan arus ekspor yang stabil agar sistem pendingin tetap beroperasi optimal. Tanpa keberangkatan kapal secara rutin, produsen di Qatar dan Uni Emirat Arab berpotensi terpaksa memangkas bahkan menghentikan produksi.

Di Mediterania, Israel dilaporkan menutup ladang gasnya, sementara aliran pipa gas Iran ke Turki berada dalam ancaman. Negara-negara seperti Mesir pun terpaksa masuk ke pasar LNG laut yang lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Situasi tersebut berpotensi menciptakan perang penawaran global atas sisa kargo LNG yang tersedia. Baik konflik tetap terlokalisasi maupun meluas, biaya ekonominya diperkirakan akan dirasakan konsumen di seluruh dunia dalam bentuk kenaikan tarif energi dan tekanan inflasi baru.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik