IHSG Volatil Ditekan Isu S&P, Analis Sebut Support di 8.000

IHSG Volatil Ditekan Isu S&P, Analis Sebut Support di 8.000

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 27 Februari 2026 - 10:10
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sangat volatil pada perdagangan Jumat (27/2/2026), sempat anjlok lebih dari 1 persen sebelum memangkas sebagian pelemahan, di tengah tekanan sentimen eksternal dan kekhawatiran atas risiko fiskal domestik.

Pasar merespons peringatan dari S&P Global Ratings yang menyoroti meningkatnya tekanan fiskal, khususnya kenaikan biaya pembayaran utang, yang dinilai berpotensi memperlemah profil kredit Indonesia dan membuka ruang penurunan peringkat.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 09.10 WIB IHSG sempat melemah tajam 1,55 persen. Namun, pada 09.30 WIB, indeks memangkas sebagian penurunan dan berada di level 8.202 atau turun 0,40 persen.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp5,92 triliun dengan volume perdagangan mencapai 13,18 miliar saham.

Sebanyak 413 saham terkoreksi, 186 saham menguat, dan 359 saham lainnya bergerak stagnan.

Saham-saham konglomerasi seperti Grup Barito, Sinarmas, Astra, hingga Bakrie menjadi penekan utama pergerakan indeks.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, tekanan terhadap pasar saham domestik tidak datang dari satu arah saja.

“Indonesia sedang memasuki masalah struktural dan tekanan ini datang dari banyak lembaga rating luar, mulai dari MSCI, Moody’s serta S&P yang terbaru. IHSG berpeluang menuju last low di 7.750, dengan support terdekat ada di 8.000,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Dia menambahkan, dari sisi teknikal, ruang koreksi masih terbuka. “Secara teknikal, IHSG terkonfirmasi bearish dengan pola head and shoulders.”

Lebih lanjut, Michael juga menyoroti tekanan yang terjadi pada saham-saham konglomerasi. “Saham konglo mendapat tekanan dari potensi klasifikasi baru oleh BEI, mulai dari concentrated shareholders serta UBO [pemilik manfaat terakhir],” imbuh dia.

Melansir dari Bloomberg, sovereign analyst S&P Global Ratings Rain Yin mengatakan dalam webinar kawasan Asia Pasifik pada Kamis (26/2/2026), pembayaran bunga utang ‘sangat mungkin’ melampaui ambang batas penting 15 persen dari pendapatan pemerintah tahun lalu.

Jika rasio tersebut bertahan di atas ambang itu secara berkelanjutan, hal tersebut dapat mendorong pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat Indonesia.

Meski S&P belum mengubah outlook stabil atas peringkat BBB Indonesia, pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang kian meluas terhadap posisi fiskal nasional.

Pada awal Februari, Moody’s Ratings Inc. mengubah outlook peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, dengan alasan melemahnya tata kelola dan meningkatnya risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan Moody’s, bersama peringatan dari MSCI Inc. terkait perlunya reformasi pasar, menekan sentimen investor asing yang sebelumnya sudah lemah.

Pemerintah merespons dengan mengumumkan sejumlah reformasi dan menyatakan bahwa perekonomian mulai menunjukkan perbaikan.

S&P menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai metrik kunci. Selama ini, Indonesia secara konsisten menjaga rasio tersebut di bawah 15 persen dalam waktu lama.

Namun, sejak pandemi, rasio itu meningkat signifikan dan belum menunjukkan penurunan yang cepat.

Indonesia, yang memiliki aturan pembatasan defisit fiskal maksimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), mencatat defisit 2,9 persen tahun lalu, lebih tinggi dari perkiraan, akibat lemahnya penerimaan negara.

Menurut S&P, perkembangan ini bergerak ‘sedikit lebih cepat’ dalam meningkatkan risiko penurunan terhadap trajektori fiskal Indonesia.

S&P menilai pelemahan penerimaan yang berkelanjutan dapat menjaga beban bunga tetap tinggi dan mengikis bantalan fiskal yang menopang peringkat kredit Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik