Harga Komoditas Pangan Stabil pada Hari Keenam Ramadan
IDXChannel - Kondisi harga komoditas pangan strategis nasional secara umum dalam keadaan stabil dan terkendali. Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Selasa (24/2/2026) pukul 21.00 WIB, mayoritas harga rata-rata komoditas pangan secara nasional berada dalam rentang Harga Acuan Penjualan (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Perlu dipahami bahwa data dari enumerator Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di seluruh Indonesia umumnya baru terinput secara lengkap ke dalam sistem paling lambat sekitar pukul 15.00 WIB setiap harinya.
Oleh karena itu, data rerata harga pada awal hari berjalan sebaiknya belum dapat dijadikan rujukan, mengingat proses pengumpulan dan konsolidasi data masih berlangsung dan belum sepenuhnya tuntas.
Dikutip dari keterangan Bapanas Jumat (27/2/2026), untuk komoditas beras, rerata harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tercatat Rp12.167 per kilogram (kg) di Zona 1, Rp12.681 per kg di Zona 2, dan Rp13.238 per kg di Zona 3. Ini masih berada di bawah HET di rentang Rp12.500 sampai Rp13.500 per kg.
Sementara itu, rerata harga beras medium dan premium juga terpantau relatif stabil di tingkat konsumen.
Pada komoditas protein hewani, telur ayam ras berada di level Rp31.320 per kg atau naik tipis 4 persen dari HAP Rp30.000 per kg. Harga daging ayam ras tercatat Rp41.050 per kg atau naik 2,63 persen dari HAP Rp40.000 per kg. Adapun rerata harga daging sapi murni justru mengalami penurunan menjadi Rp138.651 per kg dari HAP Rp140.000 per kg.
Beberapa komoditas hortikultura menunjukkan kenaikan, khususnya cabai rawit merah rata rata nasional berada di level Rp76.081 per kg. Ini melampaui rentang HAP nasional Rp40.000 sampai Rp57.000 per kg.
Namun seiring dengan aksi guyur cabai dari petani cabai binaan Kementerian Pertanian ke Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), di mana Bapanas menyokong melalui mekanisme Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), harga cabai rawit mulai menunjukkan penurunan harga. Dari sekitar Rp140.000 sampai Rp150.000 per kg, sampai ke level Rp75.000 per kg pada 24 Februari 2026.
Sementara itu untuk rerata harga cabai merah keriting, cabai merah besar, bawang merah, dan bawang putih masih berada dalam rentang kewajaran HAP nasional. Namun rerata harga bawang putih untuk Indonesia timur dan daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pedalaman (3TP) menjadi perhatian serius pemerintah untuk penstabilannya.
Untuk komoditas minyak goreng, rerata harga nasional Minyakita tercatat di beberapa daerah tercatat masih di atas HET Rp15.700 per liter. Minyak goreng kemasan rata rata berada di level Rp21.216 per liter dan minyak goreng curah Rp17.774 per liter.
"Untuk Minyakita terus kami pantau dan kami kejar supaya ke hulunya, mulai tingkat produsen, distributor sampai kepada tingkat pengecer. Bulog sebagai BUMN yang ditugaskan pemerintah untuk mengelola dan mendistribusikan Minyakita dalam program DMO (Domestic Market Obligation) agar terus melakukan pemenuhan kebutuhan Minyakita, baik di pasar tradisional maupun di pasar modern, dengan harapan minyakita tersebut akan stabil harganya di level Rp15.700 per liter sesuai dengan level yang tertulis pada kemasannya," ujar Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy.
Di sisi lain, jagung pakan peternak Rp6.896 per kg masih di atas HAP Rp5.800 per kg. Sementara kedelai biji kering impor justru turun menjadi Rp10.937 per kg dari HAP Rp12.000 per kg.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa kenaikan harga saat ini bersifat terbatas pada beberapa komoditas tertentu saja dan tidak mencerminkan kondisi lonjakan harga pangan secara umum.
"Pemerintah terus melakukan pengawasan melalui Satgas Saber pelanggaran pangan, bahkan sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Amran Sulaiman, tim kami terus ada di lapangan untuk memantau dan mengawasi pasokan dan harga pangan. Tentunya berkoordinasi dengan Kepolisian/satgas Pangan Polri, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat produsen maupun konsumen," kata Ketut.
(kunthi fahmar sandy)










