Peluang Saham Consumer-Ritel saat Ramadan, Selektif Jadi Kunci
IDXChannel - Momentum Ramadan hingga Lebaran 2026 dinilai membuka peluang taktis bagi saham sektor konsumsi (consumer goods) dan ritel. Namun, analis mengingatkan, sentimen musiman tak otomatis menjamin reli menyeluruh di pasar.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, pada Jumat (20/2/2026), secara historis sektor consumer cenderung mencatatkan kinerja lebih positif selama periode Ramadan.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak selalu mengalami “Ramadan rally”.
Dari data 10 tahun terakhir, ketika Ramadan jatuh pada Februari-Maret, performa Maret umumnya lebih kuat dibanding Februari, seiring puncak belanja yang mendekati Idulfitri.
Tahun ini, tantangannya berbeda. BRI Danareksa menyoroti daya beli yang belum sepenuhnya pulih dan sempat terjadinya deflasi, sehingga kenaikan konsumsi berpotensi lebih moderat dibanding pola musiman sebelumnya.
Karena itu, investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada fundamental dan valuasi.
Untuk subsektor makanan dan minuman, BRI Danareksa menilai PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) masih menarik.
Sementara di ritel modern dan gaya hidup, perhatian tertuju pada Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Sejalan dengan itu, riset Indo Premier pada 27 Januari 2026 menilai sektor ritel memiliki peluang taktis menjelang Lebaran 2026, ditopang perbaikan momentum penjualan dan efek basis yang lebih menguntungkan.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan ritel kuartal IV-2025 tumbuh 5 persen secara tahunan, membaik dari 4 persen pada kuartal III-2025.
Indo Premier mencatat, kinerja toko ritel telah kembali normal setelah terdampak aksi demonstrasi pada Agustus 2025, sejalan dengan pemulihan Consumer Confidence Index (CCI).
Memasuki kuartal I-2026, momentum penjualan diperkirakan terus membaik secara kuartalan.
Dari diskusi dengan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), same store sales growth (SSSG) pada tiga pekan pertama Januari 2026 tercatat positif satu digit rendah, berbalik dari kontraksi pada Desember 2025.
Selain itu, efek basis rendah (low base) pada kuartal I-2025, di mana rata-rata SSSG hanya 3,6 persen, jauh di bawah rerata Lebaran tiga tahun terakhir sebesar 8,1 persen, membuka ruang pertumbuhan lebih kuat pada kuartal I-2026.
Indo Premier menilai peluang tersebut terutama relevan bagi Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan ACES, yang pada kuartal I-2025 masing-masing hanya mencatatkan SSSG 0,1 persen dan 2,2 persen.
Dari sisi biaya, rasio beban operasional terhadap penjualan pada sembilan bulan 2025 naik menjadi 23,7 persen akibat lemahnya pertumbuhan penjualan.
Namun tekanan biaya mulai mereda, dengan peritel fokus pada efisiensi melalui pembatasan perekrutan, sentralisasi pengadaan, dan konsolidasi pasar internasional. Kenaikan upah minimum nasional 2026 di kisaran 5-7 persen dinilai relatif terkendali.
Indo Premier menghitung, setiap asumsi penurunan pertumbuhan upah 1 persen berpotensi meningkatkan laba bersih 2026 sebesar 2,2 persen untuk AMRT, 1,6 persen untuk MAPI, dan 1,2 persen untuk ACES.
Meski prospek jangka pendek menjelang Lebaran dinilai cukup menarik, Indo Premier mengingatkan katalis pasca-Lebaran masih terbatas untuk mendorong pemulihan signifikan belanja diskresioner.
Secara valuasi, sektor ritel kini diperdagangkan di 15,5 kali price to earnings (PE) 2026, atau sekitar 1,4 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
Arus kepemilikan investor lokal dan asing yang telah menyusut sejak awal 2025 juga dinilai membatasi potensi penurunan lebih lanjut.
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor ritel dengan urutan preferensi MAPI, disusul AMRT dan ACES.
Sementara itu, BRI Danareksa menegaskan, momentum Ramadan tetap bisa dimanfaatkan, namun pendekatan selektif berbasis fundamental menjadi kunci di tengah dinamika daya beli yang belum sepenuhnya pulih. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










