Airlangga Yakin Inflasi 2026 Terkendali Berkat Rantai Pasok Pangan Terjaga

Airlangga Yakin Inflasi 2026 Terkendali Berkat Rantai Pasok Pangan Terjaga

Terkini | idxchannel | Rabu, 4 Februari 2026 - 21:50
share

IDXChannel - Kementerian Koordinator bidang Perekonomian menilai angka inflasi pada awal 2026 masih terkendali. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen (year-on-year) tidak mencerminkan kenaikan harga yang signifikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, angka inflasi 3,55 persen dipengaruhi oleh low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik 50 persen pada Januari–Februari 2025, yang membuat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara perhitungan.

"Dengan demikian, inflasi Januari 2026 tetap terkendali dan tekanan harga domestik tidak menunjukkan peningkatan berarti," ujarnya dalam keterangan resminya, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Menurut Airlangga, pemerintah optimistis inflasi 2026 masih tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen dengan didukung bauran kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah, Bank Indonesia (BI), serta koordinasi pengendalian inflasi melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif).

"Koordinasi pusat dan daerah terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan antarwaktu dan antarwilayah termasuk untuk mendukung program prioritas pemerintah, meningkatkan kelancaran distribusi dan kualitas logistik pangan dari wilayah surplus ke defisit," kata dia.

Seturut itu, Airlangga menegaskan, pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok terutama saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri, serta memperkuat dukungan infrastruktur dan logistik pascabencana untuk percepatan pemulihan ekonomi daerah terdampak.

Airlangga menjabarkan sejumlah indikator yang menunjukkan perkembangan inflasi bulanan yang terkendali. Mulai dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga hanya mencatat inflasi 0,01 persen (mtm), menunjukkan harga relatif stabil.

Selain itu, harga pangan bergejolak (volatile food) juga turun 1,14 persen (yoy) pasca kenaikan sementara pada Desember 2025 akibat bencana hidrometerologi dan kenaikan permintaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Airlangga menyampaikan, penurunan harga pangan yang terjadi secara alamiah karena faktor musim panen merupakan kondisi yang sehat bagi perekonomian kebijakan stabilisasi harga yang proporsional dan terukur akan menjaga daya beli baik di sisi konsumen maupun produsen, sehingga rantai pasok pangan tetap terjaga keberlanjutannya.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik