Kiat Hadapi Volatilitas IHSG, Fokus pada Saham Unggulan
IDXChannel- Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih membayangi pergerakan pasar saham domestik, seiring kekhawatiran investor terhadap peringatan pengelola indeks global MSCI terkait isu investabilitas dan transparansi pasar.
Sejumlah analis menilai kondisi tersebut menuntut investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, dengan mencermati emiten berfundamental kuat hingga dengan imbal hasil dividen yang menarik di tengah fluktuasi pasar.
IHSG berbalik menguat pada Selasa (3/2/2026), didorong rebound saham konglomerat yang membantu meredakan tekanan jual belakangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.38 WIB, IHSG naik 1,25 persen ke level 8.021,82, usai sempat terkoreksi di awal sesi.
Nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp13,28 triliun, dengan volume perdagangan 26,36 miliar saham.
Sebanyak 548 saham menguat, 199 saham melemah, dan 211 sisanya stagnan.
Saham-saham konglomerat berkapitalisasi besar menjadi motor penggerak indeks pada perdagangan pagi ini.
Sebelumnya, IHSG sempat turun lebih dari 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Tekanan tersebut muncul setelah MSCI menyoroti praktik perdagangan serta struktur kepemilikan emiten di Indonesia, sekaligus meminta perbaikan tata kelola pasar.
Di sisi lain, otoritas saat ini tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons dan mengatasi persoalan tersebut.
Koreksi kemudian berlanjut pada awal pekan, dengan indeks acuan ditutup melemah tajam 4,88 persen ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin (2/2).
Pilah Pilih Saham Solid
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, pada Selasa (3/2/2026), koreksi tajam IHSG belakangan ini terjadi akibat permasalahan struktural terkait regulasi kepemilikan saham, dan tidak berkaitan dengan kondisi fundamental emiten.
Ia menilai kondisi tersebut justru membuka peluang bagi investor, terutama investor pemula, untuk masuk ke pasar saham pada valuasi yang lebih menarik.
“Ini adalah kesempatan berharga bagi para investor, terutama investor pemula, untuk memiliki saham dengan fundamental kuat,” katanya.
Lebih lanjut, Michael menyoroti daya tarik imbal hasil saham di tengah kondisi pasar saat ini. Menurutnya, sejumlah saham di IHSG menawarkan potensi keuntungan yang relatif lebih kompetitif dibandingkan instrumen simpanan.
“Beberapa saham di IHSG saat ini diketahui memberikan dividen yang imbal baliknya lebih besar dibandingkan deposito dan suku bunga,” imbuh Michael.
Sementara, berbeda dengan langkah UBS, Goldman Sachs, dan Nomura yang memangkas rekomendasi mereka untuk saham Indonesia, DBS mempertahankan rekomendasi overweight untuk pasar saham domestik.
Investor disarankan memanfaatkan koreksi harga untuk mengoleksi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar dengan valuasi yang lebih menarik.
“Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar,” kata DBS.
Saat ini, rasio price to earnings (P/E) IHSG maupun LQ45 masih berada di bawah rata-rata historisnya.
Menurut DBS, sambil menunggu ketidakpastian mereda dan fund aktif global kembali melirik Indonesia, investor tetap disarankan mempertahankan alokasi investasinya di pasar domestik.
Deretan Kebijakan Baru 2026: Subsidi Angkutan Umum Dihapus, Coretax hingga Girik Tak Lagi Diakui
Wait and See
Manajer portofolio Grasshopper Asset Management Daniel Tan menilai reaksi pasar belakangan ini tidak terasa berlebihan.
Ia memperkirakan ketidakpastian masih akan berlanjut hingga Mei, saat MSCI dijadwalkan melakukan peninjauan ulang terhadap aksesibilitas pasar Indonesia.
“Jika investor belum memiliki eksposur, mereka sebaiknya mengambil sikap menunggu dan melihat (wait and see) sebelum terlibat,” ujar Daniel, dikutip dari Reuters.
Sementara, Kepala Riset Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Lim menyebut pelaku pasar kemungkinan merespons sejumlah pengunduran diri petinggi regulator beberapa hari lalu dengan rasa ketidakpastian dan berbagai pertanyaan.
“Kecepatan kembalinya optimisme pasar akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menunjuk kepemimpinan yang kredibel serta menyusun peta jalan reformasi yang jelas dan komprehensif demi terciptanya pasar modal yang lebih sehat,” kata Lim.
Di sisi lain, analis Morgan Stanley, termasuk Derrick Y. Kam, dalam catatan riset tertanggal 30 Januari yang dikutip Bloomberg, menilai respons otoritas Indonesia terhadap pengumuman MSCI sebagai ‘perkembangan yang menggembirakan’.
Mereka mencatat, valuasi saham Indonesia saat ini tergolong murah dibandingkan dengan rata-rata historis. Indeks MSCI Indonesia diperdagangkan pada level 11,3 kali rasio price to earnings (P/E) forward 12 bulan, atau sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan pasar negara berkembang.
Kendati demikian, Morgan Stanley berpandangan tekanan terhadap valuasi masih berpotensi bertahan.
“Kami percaya valuasi dapat tetap tertekan untuk beberapa waktu, seiring tren perlambatan pertumbuhan laba dalam denominasi dolar AS serta tergerusnya return on equity (ROE),” tulis para analis.
Pertemuan OJK-MSCI
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan, pada Senin (2/2), pihaknya bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menggelar pertemuan dengan MSCI.
Dalam pertemuan tersebut, ketiga otoritas mengajukan sejumlah usulan untuk merespons kekhawatiran MSCI terkait aspek investability pasar.
Usulan tersebut mencakup penambahan klasifikasi investor dari semula sembilan kategori menjadi 27 kategori, kewajiban pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di atas 1 persen, serta rencana peningkatan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










