Kredit Tumbuh 15,9 Persen, BBNI Bukukan Laba Bersih Rp20 Triliun Sepanjang 2025

Kredit Tumbuh 15,9 Persen, BBNI Bukukan Laba Bersih Rp20 Triliun Sepanjang 2025

Terkini | idxchannel | Selasa, 3 Februari 2026 - 10:34
share

IDXChannel - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau Bank BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun sepanjang 2025.

Hingga akhir 2025, BBNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen secara tahunan (yoy) didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. 

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat, tercermin dari struktur pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang semakin solid, sehingga menopang efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar.

"Sepanjang 2025, perseroan menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Putrama dalam keterangan, Selasa (3/2/2026).

Adapun pertumbuhan kredit sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9 persen YoY, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8 persen YoY dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 11,2 persen YoY. 

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menambahkan, momentum akselerasi bisnis terlihat terutama di kuartal IV-2025. Di mana BNI berhasil membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,4 triliun. 

Pencapaian PPOP ini merupakan tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disupport dari pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).

Secara kumulatif 2025, NII dibukukan sebesar Rp40,3 triliun, dengan loan yield yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan, sementara pendapatan non bunga tumbuh 5,2 persen YoY menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.

Dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). 

NPL bruto tercatat sebesar 1,9 persen atau membaik 10 bps YoY, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5 persen atau membaik 1,8 persen YoY, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio mencapai 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," tutur Paolo.

Sementara itu, Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyampaikan, BNI secara konsisten mengimplementasikan langkah-langkah strategis di seluruh aspek operasional dan pembiayaan guna memperkuat praktik keberlanjutan.

Selama 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp197 triliun atau setara 22 persen dari total kredit BNI. Pembiayaan tersebut disalurkan ke berbagai sektor, antara lain energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, pengelolaan air dan limbah, serta segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ke depan, BNI akan terus memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas hijau, termasuk energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

"Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar David.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik