Erajaya (ERAA) Pacu Ekspansi ke Active Lifestyle dan EV, Intip Prospeknya
IDXChannel - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) melakukan ekspansi agresif melalui pembukaan gerai baru serta akuisisi merek di segmen pertumbuhan tinggi dan kendaraan listrik (EV).
Ini diproyeksi menjadi katalis utama kinerja perseroan pada periode 2026-2027. Hingga kini, jumlah gerai Erajaya telah mencapai 2.322 outlet, meningkat 633 toko atau sekitar 37,5 persen sejak akhir 2022.
Basis gerai yang semakin luas tersebut diperkirakan akan menjadi penopang pertumbuhan pendapatan perseroan dalam dua tahun mendatang.
Di sisi diversifikasi bisnis, ERAA memperluas portofolio ke segmen EV dengan menjadi agen tunggal pemegang merek (ATPM) XPENG di Indonesia, sekaligus mengoperasikan lini perakitan pertama XPENG di luar China.
Sementara itu, pada segmen active lifestyle, Erajaya menambah merek global seperti Wilson dan Under Armour ke dalam portofolionya.
Daftar Terbaru Harga BBM Pertamina 1 Januari 2026: Pertamax Turun Jadi Rp12.350 per Liter!
Manajemen menargetkan segmen active lifestyle dan bisnis lainnya dapat berkontribusi sekitar 25-30 persen terhadap total pendapatan dalam beberapa tahun ke depan, naik signifikan dari porsi 16,1 persen pada sembilan bulan pertama 2025.
Samuel Sekuritas mencatat, penjualan dari segmen active lifestyle dan lainnya diperkirakan mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 32 persen secara tahunan (YoY) pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi Rp15,1 triliun (34 persen) pada 2026 dan Rp19,4 triliun (28,2 persen) pada 2027.
Dari sisi ekspansi jaringan, ERAA diperkirakan membuka 100-150 gerai baru per tahun. Rinciannya, sekitar 50-60 gerai per tahun berasal dari segmen ERAL, sementara 30-40 gerai per tahun dari lini FnR. Strategi ini diyakini akan menopang pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.
Samuel Sekuritas memperkirakan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) tumbuh dengan CAGR lima tahun sebesar 18 persen sepanjang 2025-2030.
Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan porsi produk handset kelas menengah atas (uptrading), perbaikan bauran bisnis, serta peningkatan leverage operasional melalui efisiensi biaya operasional, terutama dari optimalisasi gerai di tingkat jalan dan penyesuaian jam operasional.
Dengan strategi tersebut, laba bersih ERAA diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 18,4 persen dalam lima tahun ke depan hingga mencapai sekitar Rp2,7 triliun pada 2030.
Dari sisi valuasi, Samuel Sekuritas menilai saham ERAA masih undervalued. Pada proyeksi 2026, ERAA diperdagangkan pada rasio price-to-sales (P/S) sebesar 0,1 kali, terendah di sektor ritel.
Karena itu, Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp800 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 85 persen.
"Target tersebut setara dengan rasio P/S 0,2 kali, yang masih mencerminkan diskon sekitar 67 persen dibandingkan emiten sejenis," tulis riset Samuel Sekuritas, Senin (26/1/2026).
Selain itu, ERAA berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI Small Cap jika kapitalisasi pasar disesuaikan mencapai sekitar Rp5,2 triliun atau setara harga saham Rp740. Adapun untuk memenuhi kriteria MSCI Large Cap, perseroan membutuhkan kapitalisasi pasar disesuaikan sekitar Rp31,4 triliun atau harga saham sekitar Rp4.500 per saham.
Meski prospeknya dinilai menarik, ada sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain pelemahan daya beli yang dapat menekan pertumbuhan penjualan toko sejenis (SSSG), depresiasi nilai tukar rupiah, serta risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu impor produk perseroan.
(DESI ANGRIANI)









