Gejolak MSCI Bayangi Pasar, Risiko Outflow Masih Mengintai

Gejolak MSCI Bayangi Pasar, Risiko Outflow Masih Mengintai

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 30 Januari 2026 - 10:54
share

IDXChannel – Pasar saham Indonesia bergejolak dalam beberapa hari terakhir setelah penyedia indeks global MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) pasar Tanah Air, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan data free float emiten.

Sorotan tersebut memicu tekanan jual dan arus dana asing keluar, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil.

Kondisi pasar kian sensitif terhadap sentimen negatif, setelah IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1), usai terkoreksi hingga 8 persen secara intraday.

Pada perdagangan Jumat (30/1) pagi, volatilitas kembali mewarnai pergerakan IHSG, seiring pelaku pasar merespons kabar pengunduran diri Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman.

Berdasarkan data BEI, IHSG sempat dibuka menguat ke level 8.408,30, sebelum berbalik melemah tajam hingga 8.167,16. Pada pukul 09.43 WIB, indeks perlahan rebound dan mencatatkan penguatan 0,65 persen ke level 8.286.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai, secara teknikal area support IHSG saat ini berada di level psikologis 8.000.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya kelompok blue chip dan konglomerasi, menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas indeks dalam beberapa hari terakhir.

Di tengah kondisi tersebut, Michael menegaskan investor tetap perlu menjaga kewaspadaan, mengingat tekanan pasar belum sepenuhnya mereda.

“Kewaspadaan di tengah volatilitas gejolak struktural ini tetap harus dimiliki oleh investor. Perlu diingat bahwa final keputusan MSCI akan terjadi di Mei 2026,” ujar Michael, Jumat (30/1).

Ia menambahkan, dengan masih tersisa sekitar empat bulan menuju keputusan akhir tersebut, potensi tekanan arus dana keluar masih terbuka.

“Artinya masih akan ada sekitar empat bulan lagi, di mana ada potensi kepemilikan tipe ‘corporate and others’ dikeluarkan dari perhitungan free float. Estimasi bisa terjadi outflow sekitar Rp30-Rp50 triliun,” imbuh dia.

Michael juga menyoroti arus dana asing yang telah keluar dalam dua hari terakhir, yang menurutnya menunjukkan proses penyesuaian pasar belum sepenuhnya selesai.

“Per dua hari belakangan, terjadi outflow foreign sebesar Rp11 triliun, sehingga secara teknikal proses outflow ini belum selesai,” ujarnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik