Wall Street Cetak Rekor saat Penutupan, S&P 500 Dekati Level 7.000

Wall Street Cetak Rekor saat Penutupan, S&P 500 Dekati Level 7.000

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 10 Januari 2026 - 07:00
share

IDXChannel -  Indeks bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menutup perdagangan pekan pertama 2026 dengan performa gemilang pada Jumat (9/1/2026) waktu setempat. 

Indeks S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, didorong oleh laporan lapangan pekerjaan Desember yang menunjukkan ketahanan ekonomi meskipun angka rekrutmen melambat.

Mengutip Investing, Dow Jones Industrial Average naik 237 poin atau 0,5 persen, S&P 500 menguat 0,6 persen ke level rekor baru di 6.963,21, sementara indeks padat teknologi NASDAQ Composite naik 0,8 persen.

Secara mingguan, S&P 500 mencatatkan kenaikan lebih dari 1 persen, sedangkan Dow dan Nasdaq masing-masing melonjak sekitar 2 persen.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi Amerika Serikat menambah 50.000 lapangan kerja pada bulan Desember, turun dibandingkan angka November sebesar 56.000. Realisasi ini berada di bawah ekspektasi para ekonom yang memproyeksikan angka 66.000.

Selain itu, terdapat revisi pada data bulan-bulan sebelumnya. Pada Oktober penurunan jumlah tenaga kerja direvisi lebih dalam sebesar 68.000 menjadi kehilangan 173.000 pekerjaan.

Sedangkan November, total lapangan kerja direvisi turun menjadi 56.000 dari laporan awal 64.000.

Meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat, tingkat pengangguran secara mengejutkan turun tipis menjadi 4,4 persen, lebih baik dari perkiraan pasar dan angka November yang sebesar 4,5 persen.

Lembaga investasi Jefferies mencatat bahwa meskipun survei bisnis melandai, data survei rumah tangga justru menunjukkan kondisi yang jauh lebih kuat. Survei tersebut menunjukkan jumlah tenaga kerja yang bekerja naik 232 ribu, sementara jumlah pengangguran turun 278 ribu.

Terkait arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), Jefferies menilai, peluang pemangkasan suku bunga pada Maret mendatang terlihat relatif rendah pasca rilis data ini.

Namun, analis memperkirakan The Fed akan tetap berada di jalur penurunan suku bunga dalam jangka panjang. Hal ini didasari oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih lunak di kuartal pertama serta risiko inflasi yang tetap rendah.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik