Harga Minyak Naik 3 Persen, Isu Venezuela dan Risiko Pasokan Rusia-Iran Membayangi
IDXChannel - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen pada Kamis (8/1/2026) setelah dua hari berturut-turut melemah, dan ditutup di level tertinggi dalam dua pekan.
Kenaikan ini terjadi ketika investor mencermati perkembangan di Venezuela serta mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran.
Kontrak berjangka (futures) Brent melesat 3,4 persen dan ditutup di USD61,99 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,2 persen ke level USD57,76 per barel.
Penutupan tersebut menjadi yang tertinggi bagi Brent sejak 24 Desember.
Sejumlah kedutaan asing di Venezuela mulai mengatur kunjungan pekan depan yang akan melibatkan perwakilan perusahaan minyak AS dan Eropa, menurut dua sumber Reuters.
Langkah ini menyusul pengumuman Washington terkait kesepakatan minyak senilai USD2 miliar serta pasokan barang AS ke negara Amerika Selatan tersebut.
Pada Rabu, AS menyita dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik, salah satunya berlayar dengan bendera Rusia.
Aksi ini merupakan bagian dari langkah agresif Presiden AS Donald Trump untuk mengatur arus minyak di kawasan Amerika dan menekan pemerintah sosialis Venezuela agar beralih menjadi sekutu.
Setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu lalu, AS meningkatkan blokade terhadap kapal-kapal yang berada di bawah sanksi dan melakukan pelayaran ke dan dari Venezuela, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Harga Kembali ke Level Pra-Serangan
“Pasar energi mulai pulih, dengan harga acuan minyak kembali mendekati level penutupan Jumat lalu sebelum AS menyingkirkan Maduro,” tulis analis perusahaan konsultan energi Ritterbusch and Associates dalam catatannya, dikutip Reuters.
Menurut mereka, dampak besar dari perkembangan tersebut terhadap pasar energi memang terbatas, mengingat masuknya volume signifikan minyak Venezuela ke kawasan Teluk AS masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di sisi politik, Senat AS pada Kamis meloloskan tahap awal resolusi yang akan membatasi kewenangan Trump untuk mengambil aksi militer lanjutan terhadap Venezuela tanpa persetujuan Kongres.
Namun, Trump menyatakan pengawasan AS terhadap negara tersebut bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan masih ada ruang untuk menyeimbangkan peran AS dan China di Venezuela demi memungkinkan aktivitas perdagangan, meski Washington tidak akan membiarkan Beijing memegang kendali besar.
Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Wright juga menyebut aktivitas Chevron di Venezuela diperkirakan meningkat pesat, sementara ConocoPhillips dan Exxon Mobil juga menunjukkan minat berperan lebih konstruktif.
Pemerintahan Trump turut mengundang pimpinan rumah dagang komoditas Vitol dan Trafigura ke Gedung Putih pada Jumat untuk membahas pemasaran minyak Venezuela, menurut empat sumber Reuters.
Dari Asia, Reliance Industries India, operator kompleks kilang terbesar di dunia, menyatakan akan mempertimbangkan pembelian minyak Venezuela jika diizinkan dijual kepada pembeli non-AS. Venezuela memproduksi sekitar 1 persen pasokan minyak global.
Rusia, Irak, dan Iran
Kekhawatiran pasokan juga muncul dari Rusia setelah sebuah kapal tanker yang menuju negara tersebut diserang drone di Laut Hitam, sehingga meminta bantuan Penjaga Pantai Turki dan mengalihkan rute, menurut Lloyd’s List Intelligence dan sumber keamanan maritim.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan rancangan jaminan keamanan bilateral antara Kyiv dan Washington pada dasarnya siap difinalisasi.
Di AS, Senator Republik Lindsey Graham mengatakan Trump akan mengizinkan pembahasan RUU sanksi bipartisan yang menargetkan negara-negara yang berbisnis dengan Rusia, produsen minyak terbesar kedua dunia setelah AS.
Di Irak, kabinet menyetujui rencana nasionalisasi operasi ladang minyak West Qurna 2, salah satu yang terbesar di dunia, untuk mencegah gangguan akibat sanksi AS terhadap pemegang saham Rusia, Lukoil.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan pemasok domestik agar tidak menimbun atau menaikkan harga secara berlebihan, di tengah reformasi subsidi berisiko tinggi dan gelombang protes akibat kesulitan ekonomi.
“Iran memiliki sejarah panjang protes dan tidak ada tanda rezim akan runtuh. Namun, bergantung pada perkembangan situasi, ekspor minyak Iran, sekitar 2 persen pasokan global, bisa berisiko,” ujar analis strategi investasi Raymond James, Pavel Molchanov.
Kelompok pemantau internet NetBlocks juga melaporkan pemadaman internet nasional di Iran pada Kamis, seiring berlanjutnya aksi protes.
Irak dan Iran termasuk produsen minyak terbesar di OPEC setelah Arab Saudi. (Aldo Fernando)










