Animal Spirit Bangkit, JPMorgan Prediksi IHSG Bisa Tembus 10.000 di 2026

Animal Spirit Bangkit, JPMorgan Prediksi IHSG Bisa Tembus 10.000 di 2026

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 1 Januari 2026 - 09:30
share

IDXChannel – JPMorgan melihat kembalinya animal spirit di pasar saham Indonesia pada 2026, seiring berakhirnya tahun transisi politik pada 2025 dan membaiknya prospek ekonomi domestik.

Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu menilai kombinasi belanja pemerintah yang lebih agresif, pelonggaran moneter, serta meredanya ketegangan geopolitik global akan menjadi pendorong utama pasar saham di 2026.

Sebagai gambaran, animal spirit merujuk pada dorongan psikologis berupa optimisme dan kepercayaan pelaku pasar dalam mengambil risiko investasi, yang sering kali melampaui pertimbangan rasional semata dan menjadi penggerak utama dinamika pasar keuangan.

Dalam laporan riset terbarunya, JPMorgan menetapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2026 di level 9.100, dengan asumsi pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar 8 persen dan valuasi price to earnings (P/E) 15 kali.

Sementara itu, target bull case dipatok di 10.000, sedangkan bear case di 7.800.

JPMorgan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh meningkatnya belanja pemerintah, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun peran Danantara.

Dorongan tersebut dinilai mampu mengerek konsumsi domestik, terutama di tengah perbaikan kondisi makro global dan pelonggaran tensi geopolitik.

Dari sisi kebijakan moneter, tren pelonggaran diperkirakan berlanjut. JPMorgan memproyeksikan Bank Indonesia (BI) masih akan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada 2026, didukung oleh likuiditas sistem keuangan yang membaik.

Di sisi eksternal, defisit transaksi berjalan (current account/CA) diperkirakan tetap terjaga di level yang sehat, yakni di bawah 1 persen terhadap PDB.

Meski demikian, JPMorgan mengingatkan adanya risiko utama yang patut diwaspadai, yakni volatilitas nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah yang berlarut-larut dinilai berpotensi menekan kepercayaan pelaku usaha dan konsumen, sekaligus memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.

Untuk strategi sektor, JPMorgan mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor industri, material, consumer staples, consumer discretionary, serta properti di 2026.

Dari sisi pelaku pasar, partisipasi investor ritel domestik diperkirakan tetap tinggi pada paruh pertama 2026.

JPMorgan mencatat keterlibatan investor ritel, bersama dengan fund kuantitatif (quant funds), telah mencapai rekor tertinggi pada paruh kedua 2025, mendekati level saat pandemi Covid-19 pada 2020. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya minat pada saham-saham terkait konglomerat besar dan saham berbasis indeks.

Namun, JPMorgan memperkirakan partisipasi ritel berpotensi mulai melandai pada paruh kedua 2026, bergantung pada implementasi definisi baru Adjusted Free Float dari MSCI yang diperkirakan diumumkan pada kuartal I-2026 dan mulai berlaku Mei 2026.

Sebaliknya, aliran dana institusi diproyeksikan membaik secara bertahap sepanjang 2026. Sumber dorongan baru diperkirakan datang dari mandat investasi publik Danantara, serta meningkatnya alokasi aset saham dari dana pensiun dan dana tenaga kerja milik negara (BPJS Ketenagakerjaan).

JPMorgan juga menilai Danantara berpotensi menjadi faktor kunci value-up bagi pasar saham Indonesia.

Pemisahan peran yang jelas antara holding BPI Danantara, Danantara Asset Management (DAM), dan Danantara Investment Management (DIM) dinilai sebagai langkah positif.

Struktur ini dianggap penting untuk memisahkan kewajiban pelayanan publik dan dorongan profitabilitas pada BUMN.

Eksekusi Danantara pada 2026 dinilai dapat menjadi katalis utama re-rating valuasi pasar.

Dengan fleksibilitas di luar APBN, mulai dari menghasilkan pendapatan, menghimpun pendanaan eksternal, hingga menyalurkan investasi, Danantara berpotensi menjadi penentu arah pasar saham Indonesia di 2026.

Selain IHSG, JPMorgan juga memperbarui target indeks MSCI Indonesia (MXID). Untuk akhir 2026, target bear/base/bull case masing-masing ditetapkan di 6.000, 7.200, dan 7.500.

JPMorgan memperkirakan laba pasar pulih ke kisaran 8 persen pada 2026, berbalik dari kontraksi satu digit menengah pada 2025, seiring efek basis rendah (low base factor) dan membaiknya permintaan konsumsi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik