Putin kepada Presiden Iran: Rusia Akan Lakukan Segalanya untuk Bantu Akhiri Perang Timur Tengah

Putin kepada Presiden Iran: Rusia Akan Lakukan Segalanya untuk Bantu Akhiri Perang Timur Tengah

Global | sindonews | Jum'at, 9 Oktober 2026 - 10:20
share

Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji untuk "melakukan segalanya" guna membantu mengakhiri perang di Timur Tengah saat dia bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Perang AS melawan Iran, yang dimulai sejak Februari lalu, belum berakhir meski saat ini sedang mereda.

Putin dan Pezeshkian, pemimpin dari dua negara yang paling banyak dijatuhi sanksi di dunia, bertemu setelah tiba di Turkmenistan untuk menghadiri KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang dimulai hari ini di resor Avaza, Laut Kaspia.

Baca Juga: Militer AS Susun Rencana Serangan Intensif 3 Hari terhadap Iran, Ini Targetnya

"Kami siap melakukan segala upaya yang kami miliki untuk berkontribusi pada penyelesaian situasi ini," kata Putin.

Dia menambahkan bahwa Iran telah melakukan "upaya nyata untuk mengakhiri perang" sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.

Putin juga mencatat adanya perkembangan positif dalam hubungan Iran-Rusia. Kedua negara telah memperkuat hubungan diplomatik dan militer sejak Rusia melancarkan serangan di Ukraina pada Februari 2022, sehingga semakin bergantung satu sama lain.

Jalan Buntu Konflik

Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Iran memasok drone Shahed dan rudal jarak pendek kepada Rusia untuk digunakan dalam perang Ukraina. Rusia juga dituduh memasok data kepada Iran untuk serangan terhadap target-target AS di Timur Tengah.

Putin dan Pezeshkian juga bertemu di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan bulan lalu. Selain itu, dalam sebuah percakapan telepon pada hari Rabu, Putin menyampaikan kepada Pezeshkian bahwa dia siap membantu menengahi konflik di Timur Tengah, demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Kontak-kontak ini terjadi di tengah situasi di mana perundingan antara Iran dan AS tampaknya menemui jalan buntu. Pezeshkian menyatakan pekan ini bahwa negosiasi dengan Washington "tidak ada gunanya".

Upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik akibat serangan Rusia di Ukraina juga tampak macet, bahkan saat kedua belah pihak justru meningkatkan intensitas serangan.

Putin dan Pezeshkian akan menghadiri KTT CIS—yang awalnya merupakan kelompok negara-negara bekas Uni Soviet—bersama para pemimpin Armenia, Azerbaijan, Belarus, Turkmenistan, dan negara-negara Asia Tengah lainnya.Pertemuan Putin-Pezeshkian merupakan salah satu dari beberapa pertemuan bilateral yang dijadwalkan di sela-sela KTT tersebut, menurut Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin.

CIS didirikan pada tahun 1991 untuk meredam dampak runtuhnya Uni Soviet dan menjaga hubungan di antara negara-negara bekas republiknya.

Beberapa negara telah keluar dari organisasi ini. Georgia menarik diri setelah perang dengan Rusia pada tahun 2008, Ukraina menghentikan partisipasinya setelah aneksasi Crimea oleh Moskow pada tahun 2014, dan Moldova keluar pada tahun 2023 seiring upayanya menjalin hubungan lebih erat dengan Uni Eropa.

"Bagi Rusia, yang terisolasi sejak memulai konflik Ukraina pada tahun 2022, CIS menjadi bukti bahwa negara itu sebenarnya memiliki orbit dan lingkup pengaruhnya sendiri yang diperkuat serta dilembagakan," ujar Temur Umarov, peneliti di Carnegie Russia Eurasia Centre di Berlin, kepada AFP, Jumat (9/10/2026).

Namun, pertemuan hari ini juga berlangsung di saat sejumlah negara anggota CIS berupaya mendiversifikasi kemitraan ekonomi dan diplomatik mereka, terutama dengan mempererat hubungan dengan Chinadan negara-negara Barat.

"Meskipun Rusia memutuskan untuk memanfaatkan forum ini guna menyebarkan retorika anti-Barat atau anti-Ukraina, hal itu tidak berarti anggota lainnya akan secara otomatis mendukung sikap tersebut," ujar Zhanibek Arynov, seorang peneliti yang berbasis di Kazakhstan dan memiliki spesialisasi dalam geopolitik Asia Tengah, kepada AFP.

Topik Menarik