Mengapa Saudi Tak Mau Menguji Aliansi Mekkah dalam Melawan Houthi?

Mengapa Saudi Tak Mau Menguji Aliansi Mekkah dalam Melawan Houthi?

Global | sindonews | Kamis, 8 Oktober 2026 - 03:45
share

Sultan Barakat, seorang profesor senior bidang kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, Qatar Foundation, mengungkapkan Yaman praktis telah kembali ke situasi perang saudara, seiring meningkatnya intensitas pertempuran dalam sepekan terakhir setelah bertahun-tahun mengalami kebuntuan. Dia mengungkapkan, Arab Saudi tak mau menguji Aliansi Mekkah dalam perang melawan Houthi.

Dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional—dan didukung Saudi—kini mencatat sejumlah kemajuan dalam melawan kelompok Houthi, Barakat menilai sulit untuk membayangkan akan adanya jeda dalam pertempuran tersebut.

Namun, meskipun Arab Saudi telah mengambil "sikap yang lebih agresif" terhadap Houthi, Barakat menyebut kerajaan itu tetap berhati-hati agar tidak terlibat terlalu jauh.

"Tidaklah menguntungkan bagi mereka untuk terlibat dalam konflik berkepanjangan di Yaman," ujarnya. "Mereka memiliki prioritas lain—baik secara ekonomi, regional, maupun terkait aliansi keamanan, dan sebagainya. Jadi, mereka tidak ingin membuang-buang sumber daya mereka pada saat ini."Arab Saudi mungkin juga enggan menguji pakta keamanan barunya dengan Pakistan dan Turki, tambah Barakat, agar tidak memperlihatkan keterbatasan kemampuan mereka.

Sementara itu, tiga warga sipil tewas dan 36 lainnya terluka dalam serangan Houthi terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid pada hari Selasa dan Rabu, menurut pernyataan dari Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi. Serangan terhadap Bandara Internasional Abha menewaskan dua orang perempuan—masing-masing berkewarganegaraan Maroko dan Aljazair—serta melukai 28 orang lainnya, demikian disampaikan dalam laporan tersebut.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Riyadh menewaskan seorang warga negara Sudan dan melukai delapan orang, termasuk lima warga negara Arab Saudi.

Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan pihaknya sedang bekerja "dalam integrasi penuh dan koordinasi berkelanjutan dengan otoritas keamanan terkait" untuk menilai kerusakan serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjamin keselamatan penumpang dan pekerja.

Pada tanggal 18 September, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diduga milik Houthi, yang ditembakkan dari Yaman ke arah bandara di Riyadh.Sehari kemudian, pada tanggal 19 September, setidaknya satu ledakan terdengar di dekat bandara di Riyadh, dan kepulan asap hitam pekat terlihat membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid.

Pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi—dari pemerintahan yang diakui secara internasional—terlibat dalam pertempuran yang kian memanas melawan pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran. Pasukan Houthi telah menguasai wilayah luas yang membentang di sepanjang Selat Bab al-Mandeb yang strategis, yang menghubungkan Laut Arab dan Laut Merah.

Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh telah mengeluarkan peringatan keamanan tambahan bagi warga AS di Arab Saudi terkait situasi keamanan saat ini, seraya mengingatkan "seluruh warga negara AS untuk meningkatkan kewaspadaan".

Topik Menarik