Bos Intelijen Berlin: Jerman Bisa Terseret Konflik Bersenjata dengan Rusia!
Kepala Bundesnachrichtendienst (BND), Martin Jaeger, memperingatkan bahwa Jerman bisa saja terseret ke dalam konflik bersenjata dengan Rusia. Bos intelijen luar negeri Jerman itu menyebut insiden drone misterius di bandara Leipzig sebagai contoh ancaman nyata dan mendesak yang ditimbulkan oleh Moskow.
Berbicara di hadapan para anggota parlemen dalam sebuah sidang pada hari Senin, Jaeger menyatakan: "Konfrontasi yang kita hadapi dengan Rusia telah memasuki dimensi baru yang lebih berbahaya."
Baca Juga: Apa Itu Kaliningrad dan Mengapa Bisa Memantik Perang Nuklir Rusia vs NATO?
"Jerman berisiko terseret ke dalam konflik bersenjata dengan Rusia—upaya serangan di Leipzig hanyalah salah satu contohnya," katanya, merujuk pada penemuan drone bermuatan bahan peledak di dekat pesawat angkut Ukraina di bandara kota tersebut pada bulan Agustus.
Otoritas Jerman belum merilis bukti apa pun yang mengaitkan insiden itu dengan Rusia. Sementara itu, Moskow menyebut peristiwa tersebut sebagai "provokasi yang dirancang secara terburu-buru" yang semata-mata demi kepentingan Kyiv dan kelompok militeristik dalam kalangan politik Eropa.Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, bulan lalu mengatakan: "Jelas sekali Jerman sedang menempuh langkah eskalasi lebih lanjut." Meski demikian, Jaeger menyatakan bahwa Rusia sedang mengobarkan perang bayangan, dan bahwa terdapat ancaman serangan yang nyata dan mendesak terhadap berbagai target di Jerman.
"Tidak ada negara lain saat ini yang menimbulkan ancaman langsung, menyeluruh, dan konkret seperti itu terhadap Jerman," ujarnya, yang dikutip Russia Today, Selasa (6/10/2026).
Jaeger adalah salah satu dari puluhan tokoh politik, militer, dan media Barat yang menuduh Rusia melancarkan "perang hibrida" atau "perang bayangan" terhadap Eropa dalam beberapa pekan terakhir.
Tuduhan-tuduhan ini pada dasarnya mustahil untuk diverifikasi, dan Moskow menepisnya sebagai dalih untuk memperdalam keterlibatan Barat dalam konflik Rusia-Ukraina, membenarkan peningkatan belanja militer, serta memperluas pengawasan dan penindakan terhadap lawan politik di dalam negeri.
Kanselir Jerman Friedrich Merz secara eksplisit dan tanpa bukti menyebut partai politik paling populer di negara itu, AfD yang berhaluan kanan, sebagai pihak yang didukung Rusia. Martina Rosenberg, kepala Dinas Kontra-Intelijen Militer Jerman (MAD), menyinggung klaim Merz dalam pengarahan hari Senin, dengan mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa negara tersebut terancam oleh berbagai bahaya, baik dari luar maupun dari dalam.
Jaeger, Rosenberg, dan kepala badan intelijen dalam negeri (BfV) Sinan Selen semuanya memuji upaya terbaru Merz untuk memberikan wewenang ofensif yang lebih besar kepada BND, serta menyerukan penguatan lebih lanjut atas kemampuan MAD dan BfV.
Terlepas dari tuduhan mengenai "perang hibrida", para pemimpin Eropa berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak meyakini Rusia sedang merencanakan serangan nyata terhadap wilayah NATO. "BND tidak melihat adanya indikasi serangan skala besar Rusia yang akan segera terjadi terhadap wilayah NATO," imbuh Jaeger pada hari Senin.


