Partai Hijau Inggris Akui Zionisme sebagai Rasisme, Dukung Satu Negara Palestina
Gio Fidelito berhasil menjadi peneliti di salah satu perguruan tinggi ternama di Australia, tepatnya di University of Melbourne. Ia bergabung dengan Metabolism and Diabetes Laboratory, Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne,
Dr Gio Fidelito sebelumnya kuliah di program studi Biomedik di i3L University angkatan 2015. Ia tertarik pada ilmu biologi sejak di bangku SMA Kolese Santo Yusup di Malang.
Baca juga: Profil Irwan Meilano, Guru Besar dan Wakil Rektor ITB yang Dilantik Jadi Wamen KKP
Minat tersebut semakin kuat usai Gio mengikuti kelas pengayaan biologi dan pelatihan biologi molekuler di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya.
“Setelah memahami cakupan tiap jurusan, saya merasa Biomedik lebih cocok. Saya merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan,” katanya, melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (5/10/20206).
Pengalaman akademik di i3L University membentuk pola pikir Gio menjadi lebih sistematis, logis, dan kritis. Sejak semester pertama, Ia telah mendapatkan pengalaman laboratorium secara intensif.
Bekal tersebut berlanjut dan membuka kesempatan bagi Gio melakukan penelitian di Soochow University, Tiongkok, melalui program yang difasilitasi International Office i3L University. Baca juga: UGM Jadi Kampus dengan Komersialisasi Paten Tertinggi di Indonesia
Di sana, ia bekerja di laboratorium Prof Yufang Shi. Dan untuk pertama kalinya melihat secara langsung kehidupan peneliti di lingkungan akademik internasional.
“Pengalaman di Tiongkok membuka mata saya tentang dunia penelitian, terutama di tingkat internasional. Sebelumnya, saya tidak benar-benar tahu apa yang dikerjakan seorang peneliti atau seperti apa kesehariannya,” tuturnya.
Dalam proses seleksi program tersebut, Gio diwawancarai oleh dosen i3L University, Dr Richard Sutejo.
Richard dikenal sebagai salah satu dosen yang aktif mendorong para mahasiswa untuk mencari peluang riset di luar negeri.
“Beliau sering mendorong kami untuk tidak takut atau ragu mengirim email ke profesor di luar negeri untuk mencari peluang magang,” ujar Gio.
Dalam kesempatan yang berbeda, Richard mengemukakan bahwa minat dan potensi Gio di bidang riset sudah terlihat sejak masa kuliah.Hal tersebut tercermin dari cara Gio menganalisis pertanyaan, mengikuti perkuliahan, dan menerima konsep-konsep yang baru.
“Memang Dr Gio ini terhitung brilian di antara teman-teman sekelasnya. Kalau mengenai etos kerja, ia memiliki inisiatif dan daya analitis yang terhitung sangat potensial,” kata Richard.
Salah satu momen penting yang menunjukkan potensi Gio terjadi ketika ia memberikan tugas presentasi mengenai penemuan terbaru di dunia biomedis dalam mata kuliah Canceromics.
“Dr Gio ini selalu membawa keilmuan yang baru yang menurut saya sangat bagus, bahkan setara S3 padahal Dr Gio masih semester 6,” ujarnya.
Richard mengatakan pola pembelajaran tersebut memang dirancang untuk mendorong mahasiswa mengembangkan keilmuan dan daya analitis.
"Dari proses itu, saya melihat minat dan bakat Gio di bidang biomedis berkembang sangat kuat," urai Richard.Dari Keraguan Beasiswa hingga Pimpin Riset Kanker di Melbourne
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di i3L University, Gio melanjutkan studi doktoral di University of Melbourne.
Memasuki masa PhD, Gio juga sempat mengalami keraguan ketika berada di lingkungan akademik dengan nama besar University of Melbourne.
Namun, pengalaman mengajar dan bekal yang diperolehnya di kampus kembali membangun kepercayaan dirinya.
“Setelah menyelesaikan PhD pada 2024, kini saya dipercaya memimpin program penelitian yang sesuai dengan minat saya, sambil tetap aktif membantu proyek-proyek lain di laboratorium,” terang Gio.
Dirinya saat ini tergabung dalam project riset Metabolism and Diabetes Laboratory di Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne, di bawah Prof Matthew Watt. Laboratorium tersebut berfokus pada perlemakan hati, obesitas, dan diabetes tipe 2, termasuk mekanisme gangguan metabolisme dan komunikasi antarorgan untuk menemukan target terapi baru.
Gio sendiri menjalankan dua jalur penelitian. Pada riset dasar, ia mempelajari mekanisme molekuler yang mengatur metabolisme asam lemak di tingkat sel.
Sementara pada riset translasional, ia meneliti kanker prostat, khususnya bagaimana sel kanker memprogram ulang metabolismenya agar mampu tumbuh dan bertahan hidup serta mencari aspek metabolik yang berpotensi menjadi target pengobatan.
Dalam keterangannya, Gio mendorong para mahasiswa Indonesia untuk berani dan percaya diri mengejar peluang riset internasional, tidak minder.
Pasalnya, kesempatan yang sama dapat menghasilkan capaian yang sama apabila mahasiswa berani mengambil peluang.
“Jangan takut bermimpi. Terkadang kita merasa minder atau kurang mampu dibanding mahasiswa di luar negeri. Tapi percayalah, jika diberi kesempatan yang sama, kita juga mampu,” tegas Gio.



