Doktrin Militer Iran Beralih dari Defensif ke Ofensif
Seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigadir Jenderal Yadollah Javani, memperingatkan bahwa meskipun tindakan militer Iran selama ini murni bersifat defensif sejak pecahnya permusuhan, angkatan bersenjata sepenuhnya siap untuk mengambil postur ofensif jika diperlukan, seraya memperingatkan pihak lawan untuk bersiap menghadapi "kejutan strategis."
Brigadir Jenderal Yadollah Javani, Deputi Bidang Politik IRGC, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara televisi pada Senin malam.
Ia menegaskan bahwa pihak lawanlah yang memicu konflik tersebut, seraya mencatat bahwa respons Iran sejauh ini murni bersifat defensif.
Namun, ia memperingatkan bahwa sikap defensif ini akan segera berubah, menandai pergeseran signifikan dan transformatif dalam doktrin strategis militer.
"Musuh harus tahu bahwa mereka tidak bisa membuat kami lengah," ujar Jenderal Javani, dilansir Press TV. "Sebaliknya, justru musuhlah yang harus mengantisipasi kejutan strategis."Ia secara khusus menyoroti keputusan penunjukan komandan tinggi IRGC baru-baru ini, terutama mandat yang diberikan kepada Panglima Tertinggi yang baru, Mayor Jenderal Ahmad Vahidi.
Jenderal Javani mencatat bahwa keputusan komando baru tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan sinyal jelas bagi pihak lawan bahwa doktrin militer Iran sedang berkembang untuk menghadapi dan melampaui tantangan peperangan modern.
Menurut Jenderal Javani, keputusan penunjukan Jenderal Vahidi menekankan pada "pencegahan maksimal" dan memperkenalkan pendekatan operasional baru: mulai sekarang, setiap tindakan defensif yang diambil oleh angkatan bersenjata pada dasarnya akan memiliki bentuk ofensif guna menetralisir ancaman secara proaktif.
Sembari menegaskan kembali bahwa Republik Islam tidak pernah menjadi pihak agresor—baik di bawah kepemimpinan mendiang Imam Khomeini, Pemimpin yang gugur sebagai syahid Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, maupun kepemimpinan saat ini—sang jenderal mengkritik keras "kesalahan perhitungan" pihak musuh. "Segala langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah ini, menjamin keamanan, dan melumpuhkan ancaman musuh akan dilaksanakan pada saat yang tepat," pungkas Jenderal Javani, seraya mencatat bahwa angkatan bersenjata telah menunjukkan tekad ini dalam berbagai peristiwa terkini dan akan terus melakukannya.
Penunjukan Mayor Jenderal Ahmad Vahidi baru-baru ini sebagai Panglima Tertinggi IRGC menandai konsolidasi penting dalam kepemimpinan militer dan strategis Iran.
Sebagai veteran "Pertahanan Suci" melawan invasi Irak pada tahun 1980-an dan sosok yang sangat dipercaya dalam jajaran keamanan Republik Islam, Jenderal Vahidi membawa pengalaman selama beberapa dekade untuk peran ini.
Ia sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata serta Menteri Dalam Negeri, yang memberinya pemahaman unik mengenai peperangan asimetris maupun aparat keamanan dalam negeri.
Pengangkatannya ke posisi puncak IRGC menandakan pergeseran terencana menuju doktrin pertahanan yang lebih terintegrasi, proaktif, dan tangguh.





