Eks Anggota Kongres AS: Amerika Sedang Bahas Serangan Nuklir terhadap Iran
Para pejabat di Washington sedang membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran seiring terus memanasnya konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Demikian diungkap mantan anggota Kongres Amerika Serikat (AS), Marjorie Taylor Greene.
Greene, yang pernah menjadi sekutu terkemuka gerakan MAGA (Make America Great Again), mengungkap pembahasan itu dalam sebuah unggahan di X pada hari Minggu (16/8/2026). Dia mengatakan bahwa isu tersebut telah dibahas dalam rapat-rapat strategi, namun tidak menyebutkan siapa saja yang terlibat ataupun memberikan bukti.
Baca Juga: Netanyahu Telan Mentah-mentah Hoaks untuk Bikin Klaim Senjata Nuklir Iran
"Mereka sedang membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam rapat-rapat strategi," tulisnya. "Saya tidak berspekulasi, saya tahu. Dan itu adalah tindakan yang sangat jahat."
Greene mengeklaim Washington sedang mempertimbangkan untuk menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir, meskipun Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan kemenangan dalam perang tersebut. Dia memperingatkan bahwa langkah semacam itu dapat memicu "holocaust nuklir" dan menyeret dunia ke dalam perang yang jauh lebih luas.Gedung Putih belum memberikan konfirmasi secara terbuka bahwa pembahasan semacam itu sedang berlangsung.Greene semakin sering mengkritik Trump terkait perang AS-Israel melawan Iran, yang membuatnya berseberangan dengan gerakan politik yang dulunya sangat dekat dengannya.
Pengungkapannya muncul di tengah laporan bahwa Washington sedang mempertimbangkan eskalasi lebih lanjut dalam perang tersebut. The Washington Post melaporkan bulan lalu bahwa AS sedang bersiap menghadapi perang yang lebih luas, sementara Pentagon dikabarkan telah mengkaji operasi darat besar-besaran untuk merebut uranium yang telah diperkaya milik Iran.
AS dan Israel melancarkan kampanye militer tanpa provokasi terhadap Iran pada akhir Februari, dengan menuduh Teheran berada di ambang pembuatan bom nuklir. Tuduhan itu dilontarkan meskipun intelijen AS dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak ada bukti adanya program senjata nuklir Iran.
Iran membalas dengan serangan terhadap target-target Amerika dan Israel di seluruh kawasan dan kemudian membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Washington dan Israel terus menuntut kebijakan "nol pengayaan" serta penghapusan stok uranium yang telah diperkaya milik Iran.
Teheran menolak tuntutan tersebut, dengan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan kegiatan pengayaan merupakan hak berdaulat. Pada saat yang sama, Iran memperingatkan bahwa mereka bisa mencapai tingkat pengayaan untuk kebutuhan senjata jika kembali diserang, sembari menyatakan bahwa mereka belum memutuskan untuk membuat bom.





