Presiden Tertua di Dunia Sudah 71 Hari Kunjungan ke Eropa tapi Tak Pulang-pulang, Ada di Mana Dia?

Presiden Tertua di Dunia Sudah 71 Hari Kunjungan ke Eropa tapi Tak Pulang-pulang, Ada di Mana Dia?

Global | sindonews | Senin, 17 Agustus 2026 - 10:34
share

Presiden Kamerun Paul Biya (93) bertolak ke Eropa sejak 7 Juni 2026. Sudah 71 hari atau 2 bulan lebih, presiden tertua di dunia ini tak kunjung pulang atau terlihat di depan publik. Padahal, dia pamitnya hanya kunjungan singkat. Ada di mana dia sebenarnya?

Mengutip laporan DW, Senin (17/8/2026), presiden yang telah memerintah Kamerun sejak 1982 ini masih berada di luar negeri, sementara roda pemerintahan terus berjalan dan perombakan jabatan tinggi militer dilakukan.

Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Pamitnya Kunjungan Singkat ke Eropa, tapi Sudah 2 Bulan Tak Pulang

Dengan absennya Biya di dalam negeri selama lebih dari dua bulan, muncul berbagai pertanyaan mengenai siapa sebenarnya yang memegang kendali pemerintahan, serta apa dampak ketidakhadirannya yang berkepanjangan ini terhadap masa depan Kamerun.

Di saat yang sama, negara ini juga tengah menghadapi kekerasan separatis di wilayah-wilayah berbahasa Inggris, serangan Boko Haram di wilayah utara, serta tekanan ekonomi. Perubahan terkini dalam jajaran pimpinan tinggi militer negara tersebut turut menambah ketidakpastian secara keseluruhan.

Tahun lalu, Biya memenangkan masa jabatan kedelapan dalam pemilu yang menuai sengketa, yang berpotensi membuatnya tetap menjabat hingga usianya mendekati 100 tahun. "Hal terbaik masih akan datang," ujar Biya sebelum pemilu tersebut—yang oleh lawan-lawan politiknya disebut penuh kecurangan dan diwarnai bentrokan mematikan antara pengunjuk rasa dan polisi.

Pekan lalu, juru bicara pemerintah René Emmanuel Sadi mengatakan kepada radio Prancis; RFI, bahwa Biya berada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang dirawat di rumah sakit. Hanya saja, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai keberadaannya.

Biya adalah presiden kedua Kamerun sejak kemerdekaan pada tahun 1960 dan salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Dia pertama kali menjabat pada tahun 1984 di bawah sistem satu partai, kemudian memenangkan enam pemilihan umum lagi setelah sistem politik multipartai diperkenalkan.Dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama di luar negeri selama masa kepresidenannya. Namun, ketidakhadirannya kali ini kembali memicu pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya dan siapa yang menjalankan pemerintahan saat dia tidak berada di tempat.

Rumor mengenai kesehatan dan keberadaan Biya telah lama mewarnai kehidupan publik di Kamerun, mengingat dia jarang terlihat di depan umum. Kantor kepresidenan berulang kali harus menepis spekulasi bahwa dia sakit parah atau telah meninggal dunia. Pada tahun 2024, pemerintah melarang pembahasan media mengenai kesehatannya, dengan alasan bahwa hal tersebut merupakan masalah keamanan nasional.

Masa kekuasaan Biya yang panjang juga mencerminkan kontras yang lebih luas di seluruh Afrika. Benua ini memiliki populasi termuda di dunia, namun sejumlah negara masih dipimpin oleh para pemimpin lanjut usia yang karier politiknya bermula beberapa dekade silam, termasuk mantan tokoh perjuangan kemerdekaan yang kini memerintah di era yang berbeda.

Bagi jutaan warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal.

Abit Riassai Acha, seorang mahasiswa doktoral sekaligus pemimpin pemuda komunitas di Universitas Yaoundé II yang berusia 26 tahun, berasal dari generasi yang sama.

"Sejak saya tumbuh besar, Presiden Biya adalah satu-satunya presiden yang saya kenal; jadi, masa kepresidenannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman hidup saya di Kamerun," ujar Acha, yang memberikan suara untuk pertama kalinya dalam pemilihan presiden tahun lalu dengan mendukung kandidat oposisi muda, Samuel Hiram Iyodi (38).Setelah lebih dari empat dekade dipimpin oleh presiden yang sama, pertanyaan mengenai kepemimpinannya justru semakin mengemuka.

"Karena hal ini telah terjadi berulang kali selama bertahun-tahun, banyak warga Kamerun yang sudah terbiasa dengannya," kata Acha menanggapi seringnya Biya absen dari kegiatan publik. "Namun, terbiasa dengan suatu keadaan tidak berarti masyarakat harus berhenti mempertanyakan bagaimana negara ini dikelola."

Iyodi—yang menempati posisi kedelapan dalam pemilihan presiden tahun lalu, sebuah pemilu di mana beberapa kandidat (termasuk salah satu penantang utama Biya) dilarang untuk ikut serta—telah mendesak parlemen agar meminta Dewan Konstitusi Kamerun mempertimbangkan apakah ketidakhadiran Biya dapat dianggap sebagai kekosongan jabatan presiden. Namun, langkah semacam itu kecil kemungkinannya untuk berhasil, mengingat dominasi partai penguasa Biya, Cameroon People’s Democratic Movement.

Meski sedang berada di luar negeri, Biya terus mengambil keputusan-keputusan penting dari sana, termasuk perombakan besar-besaran di tubuh militer yang diumumkan awal bulan ini. Kendati demikian, pertanyaan seputar keberadaannya yang berkepanjangan di luar negeri telah membuat para pejabat harus meyakinkan publik Kamerun secara terbuka bahwa presiden mereka masih hidup.

Sadi menepis kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan. "Presiden Paul Biya masih hidup dan akan segera kembali," katanya kepada RFI.

Analis politik Collins Molua Ikome, seorang warga Kamerun yang bermukim di Jerman, mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri beberapa masalah di negara itu saat berkunjung ke Kamerun pada bulan April."Kondisi jalan di Kamerun sangat buruk. Saya bahkan sempat menyaksikan kecelakaan fatal," ujarnya kepada CNN.

Ikome juga menyoroti seringnya pemadaman listrik, korupsi, dan minimnya lapangan kerja bagi kaum muda.

Wilson Tamfuh, seorang profesor hukum publik dan internasional di Universitas Dschang di Kamerun Barat, mengatakan bahwa negara tersebut memiliki lembaga-lembaga yang mampu menjaga roda pemerintahan tetap berjalan saat presiden melimpahkan tanggung jawab. Tugas-tugas utama, menurutnya, dapat ditangani oleh perdana menteri, sekretaris jenderal kepresidenan, dan para menteri.

Namun, pertanyaan yang lebih besar, kata Tamfuh, adalah apakah pemerintah benar-benar mengatasi masalah-masalah menahun yang dihadapi negara itu.

"Masyarakat ingin krisis wilayah berbahasa Inggris (Anglophone) diselesaikan, taraf hidup ditingkatkan, jalan raya yang lebih baik, berkurangnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur, dan banyak lagi," ujarnya kepada CNN, merujuk pada konflik separatis yang telah berlangsung bertahun-tahun di wilayah-wilayah Kamerun yang berbahasa Inggris.

Kelak saat Biya akhirnya meninggalkan jabatannya, penggantinya akan mewarisi negara yang juga sedang menghadapi serangan militan Boko Haram di wilayah utara serta rasa frustrasi ekonomi yang mendalam di kalangan generasi muda.Layanan kesehatan merupakan masalah lain yang menjadi sorotan. Ikome mengatakan bahwa akses terhadap layanan kesehatan berkualitas masih sulit dijangkau oleh banyak warga Kamerun.

"Angka harapan hidup di negara ini berada di bawah 70 tahun. Namun, usia Biya jauh melampaui angka tersebut berkat akses layanan kesehatan di luar negeri—sesuatu yang tidak bisa dinikmati oleh warga Kamerun biasa karena faktor kemiskinan," ujar Ikome.

Kesenjangan ini tidak hanya terjadi di Kamerun. Di seluruh Afrika, para elite politik sering kali mencari layanan kesehatan atau memiliki tempat tinggal di luar negeri, bahkan ketika layanan publik di dalam negeri sendiri sedang terbengkalai.

Bagi Bime, persoalannya lebih bersifat pribadi: Akankah dia masih hidup untuk melihat presiden berikutnya?

Setelah berpuluh-puluh tahun menantikan perubahan, dia khawatir hal itu tidak akan terjadi—dan bahwa usia Biya bisa jadi lebih panjang daripada usianya sendiri serta usia banyak orang lain yang bukan bagian dari kalangan elite negara tersebut.

"Setiap kali mereka terserang flu, mereka pergi ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan, sementara warga Kamerun lainnya justru meninggal dunia akibat kurangnya layanan kesehatan," ujarnya.

Topik Menarik