AS dan Turki Hendak Pasok Senjata ke Ukraina, Rusia Tuntut Penjelasan
Kementerian Luar Negeri Rusia telah menuntut penjelasan dari Amerika Serikat (AS) dan Turki terkait rencana memasok senjata ke Ukraina. Rencana itu terungkap dari informasi yang dirilis oleh Kongres AS.
"Kementerian Luar Negeri Rusia telah meminta penjelasan dari Washington dan Ankara," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Sputnik, Minggu (16/8/2026).
Baca Juga: Zelensky: Jual 10 Rudal Patriot AS ke Ukraina, Kami Akan Hancurkan Seluruh Misil Rusia!
Menurutnya, AS dan Turki masih memiliki waktu untuk menilai situasi secara bijak terkait rencana pasokan senjata ke Kyiv.
Menurut dokumen yang dirilis oleh Kongres AS, jumlah persenjataan tersebut cukup besar, yaitu: 12 peluncur roket ganda beserta lebih dari 2.500 amunisi cluster tanpa pemandu untuk peluncur tersebut, 47.000 peluru artileri cluster kaliber 203 mm, dan 70 rudal taktis-operasional ATACMS.Zakharova mengatakan memasok senjata baru tidak akan berdampak signifikan terhadap jalannya operasi militer khusus—istilah yang digunakan Rusia dalam perangnya melawan Ukaraina. Sebaliknya, kata dia, itu akan menyebabkan kerusakan serius pada hubungan bilateral dengan AS dan Turki.Menurutnya, upaya menggunakan retorika perdamaian sembari memasok senjata ke Ukraina merusak rasa saling percaya, terutama mengingat adanya jaminan dari Turki bahwa mereka menghindari pasokan senjata yang mematikan.
Zakharova mencatat bahwa waktu pengiriman muatan mematikan dalam skala besar kepada penerima di Ukraina belum jelas.
"Perlu dicatat bahwa keadaan dan kondisi 'transfer' material mematikan berskala besar semacam itu masih sangat kontradiktif. Tidak jelas siapa yang memprakarsai ekspor ulang tersebut, serta bagaimana dan kapan rencana transfer muatan mematikan berskala besar itu akan dilakukan kepada penerima di Kyiv," kata Zakharova.
Dia juga mengatakan bahwa tidak jelas apa yang memotivasi Amerika Serikat dan Turki untuk "membuka kotak Pandora" dan memperpanjang penderitaan rezim Kyiv.
Dia menambahkan bahwa hal ini sangat mencolok mengingat kedua negara tersebut mengeklaim memiliki peran khusus dalam penyelesaian krisis Ukraina serta telah menyatakan bahwa penyelesaian secara politik dan diplomatik merupakan prioritas mereka."Namun, dampak buruk yang beragam akibat pasokan semacam itu tidak dapat dihindari. Masalahnya bukan hanya soal korban jiwa dan kehancuran yang ingin diperparah oleh pihak berwenang di Kyiv, melainkan juga mengenai kerusakan serius pada hubungan bilateral kita dengan Washington dan Ankara," ujar Zakharova.
Zakharova menegaskan bahwa pasokan senjata tambahan bagi angkatan bersenjata Ukraina tidak akan memengaruhi jalannya operasi militer khusus Rusia di Ukraina.
"Membanjiri junta Zelensky dengan semakin banyak senjata tidak akan mampu memengaruhi jalannya operasi militer khusus secara signifikan, yang berjalan sesuai dengan skenario Rusia yang adil," kata Zakharova, mengacu pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.







