Presiden Tertua di Dunia Pamitnya Kunjungan Singkat ke Eropa, tapi Sudah 2 Bulan Tak Pulang
Paul Biya memenangkan pemilihan presiden (pilpres) pertamanya di Kamerun pada tahun 1984. Kini berusia 93 tahun, Biya masih menjabat sebagai presiden. Tahun lalu, dia memenangkan masa jabatan kedelapan, yang dapat membuatnya tetap berkuasa hingga dia hampir berusia 100 tahun.
Namun, selama dua bulan terakhir, pria yang telah memimpin Kamerun sejak 1982—saat dia mengambil alih kekuasaan sebagai perdana menteri setelah pengunduran diri presiden saat itu—berada ribuan mil jauhnya dari negaranya. Dia berangkat pada 7 Juni untuk apa yang disebut kantornya sebagai "kunjungan pribadi singkat di Eropa", namun hingga kini tak kunjung pulang.
Baca Juga: Sosok Paul Biya, Presiden Tertua di Dunia Berumur 92 Tahun yang Berkuasa Lagi untuk Periode 8
Kunjungan Biya ke Eropa itu menjadi ketidakhadiran terlama di negaranya. Juga menjadi kunjungan luar negeri terlama tanpa jeda dalam beberapa tahun terakhir.
Pekan lalu, juru bicara pemerintah René Emmanuel Sadi mengatakan kepada radio Prancis; RFI, bahwa Presiden Biya berada di Jenewa, Swiss, dan tidak sedang dirawat di rumah sakit. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai keberadaannya.Presiden Jarang Terlihat
Menurut laporan dari AP, Minggu (16/8/2026), Biya adalah presiden kedua Kamerun sejak kemerdekaan pada tahun 1960 dan salah satu pemimpin dengan masa jabatan terlama di dunia. Dia pertama kali menjabat pada tahun 1984, di bawah sistem satu partai, dan kemudian memenangkan enam pemilihan lagi setelah sistem multipartai diberlakukan.Selama masa kepresidenannya, dia telah menghabiskan waktu yang lama di luar negeri. Namun, ketidakhadirannya di dalam negeri baru-baru ini kembali memicu pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya dan siapa yang menjalankan pemerintahan selama dia tidak berada di tempat.Rumor seputar kesehatan dan keberadaan Biya telah lama mewarnai kehidupan publik di Kamerun, mengingat dia jarang terlihat di depan umum. Kantornya berulang kali harus menepis spekulasi bahwa dia sakit parah atau telah meninggal dunia. Pada tahun 2024, pemerintah melarang pembahasan media mengenai kesehatannya dengan alasan keamanan nasional.
Masa kekuasaan Biya yang panjang juga mencerminkan kontras yang lebih luas di Afrika. Benua ini memiliki populasi termuda di dunia, namun sejumlah negara masih dipimpin oleh tokoh-tokoh lanjut usia yang karier politiknya bermula beberapa dekade silam—termasuk mantan tokoh gerakan pembebasan yang kini memerintah di era yang sangat berbeda.
Bagi jutaan warga Kamerun, Biya adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal.
Meski berada di luar negeri, Biya terus mengambil keputusan-keputusan penting, termasuk perombakan besar-besaran di tubuh militer yang diumumkan awal bulan ini. Namun, pertanyaan mengenai lamanya dia berada di luar negeri mendorong para pejabat untuk meyakinkan publik Kamerun bahwa presiden mereka masih hidup.
Sadi menepis kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan. Dia menegaskan kepada RFI, "Presiden Paul Biya masih hidup dan akan segera kembali."
Kelak saat Biya akhirnya lengser, penggantinya akan mewarisi negara yang juga menghadapi serangan militan Boko Haram di wilayah utara serta kekecewaan mendalam di kalangan generasi muda terkait kondisi ekonomi.







