Iran Sebut Trump Delusi karena Ingin Deklarasikan Selat Hormuz Wilayah AS
Pemerintah Iran mengejek Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai pemimpin yang "memelihara delusi" karena ingin mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika. Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mendesak orang nomor satu Amerika itu menghentikan delusinya.
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari memicu Teheran untuk menutup selat tersebut, dan Washington merespons dengan memberlakukan blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade itu mengganggu lalu lintas di salah satu koridor energi terpenting di dunia, yang pada awalnya menyebabkan harga minyak global melonjak hingga mencapai USD120 per barel.
Baca Juga: Trump Ancam Segera Deklarasikan Selat Hormuz Wilayah AS
"Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya: hingga saat ini, Anda telah menderita kekalahan strategis yang telak; Selat Hormuz adalah milik Iran, tetap milik Iran, dan akan terus menjadi milik Iran," ujar Gharibabadi dalam sebuah unggahan di X pada hari Sabtu (15/8/2026).
Dia menambahkan, "Jalur perairan tersebut hanya akan ditutup dan dibuka di bawah komando Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan serta menghentikan delusi muluk-muluk Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade tersebut.""Selat Hormuz tidak bisa direbut melalui cuitan, kapal induk, penerbitan perintah, ataupun pidato kampanye pemilu," lanjut Gharibabadi, seraya menekankan: "Teheran tidak takut pada ancaman maupun gentar menghadapi unjuk kekuatan."Saat berbicara pada hari Jumat di sebuah akademi kepolisian di Nassau County, New York, Trump mengeklaim bahwa Republik Islam tersebut sedang mengalami kekalahan telak dan mengatakan: "Begitu kemenangan diraih, dalam waktu dekat, saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS."
Awal bulan ini, Teheran mengajukan serangkaian syarat untuk membuka kembali selat tersebut, termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang, pencabutan sanksi, pelepasan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian permanen permusuhan terhadap Iran dan sekutu regionalnya. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan Washington untuk sepenuhnya menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran.
Pekan lalu, Trump mengatakan pemerintahannya tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan. Dalam sebuah wawancara dengan Axios, dia menyebut bahwa Washington mengambil pendekatan yang tidak terlalu menonjol dalam negosiasi tersebut sembari membiarkan tekanan ekonomi terhadap Teheran terus meningkat.
Pembicaraan tersebut—yang digambarkan oleh presiden AS sebagai "semi-negosiasi"—dilakukan setelah berminggu-minggu terjadi perbedaan pendapat mengenai nota kesepahaman 14 poin. Nota kesepahaman itu mencakup ketentuan tentang gencatan senjata sementara, pencabutan bertahap blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pemulihan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz.
Pertempuran kembali pecah pada bulan Juli setelah kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan mengenai tata cara pelaksanaan kesepakatan tersebut.







