PM Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump untuk Gaza, Ini 3 Alasannya

PM Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump untuk Gaza, Ini 3 Alasannya

Global | sindonews | Senin, 10 Agustus 2026 - 05:15
share

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah menolak rencana perdamaian untuk Gaza yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan tidak akan menarik pasukan sampai kelompok Palestina, Hamas, melucuti senjata sepenuhnya.

"Israel menolak dokumen 15 poin tersebut," kata Netanyahu dalam rapat kabinet pada hari Minggu, merujuk pada rencana yang didukung oleh Hamas bulan lalu.

PM Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Trump untuk Gaza, Ini 3 Alasannya

1. Israel Menolak Mundur dari Gaza

Militer Israel "tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sampai Hamas benar-benar melucuti senjata... dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan serta warga kami".

Dia menambahkan bahwa Israel sedang "berbicara dengan pihak Amerika mengenai masalah ini".

"Mereka memiliki gagasan-gagasan; beberapa dapat kami terima dan beberapa tidak, dan kami tahu cara bersikap tegas dalam hal-hal ini," kata perdana menteri tersebut.

Belum ada tanggapan segera dari Gedung Putih maupun Hamas.Israel terus melancarkan serangan mematikan yang hampir terjadi setiap hari di Jalur Gaza sejak menyepakati "gencatan senjata" dengan Hamas pada bulan Oktober lalu.

Pada tanggal 30 Juli, Trump mengumumkan kesepakatan "bersejarah" yang mencakup "pelucutan senjata sepenuhnya bagi Hamas dan semua kelompok bersenjata lainnya di Gaza", yang ia sebut sebagai "langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng".

Namun pekan lalu, Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dipimpin AS menyatakan bahwa penarikan pasukan Israel dari Gaza hanya akan terjadi setelah pelucutan senjata Hamas rampung, menyusul pertemuan antara direktur badan tersebut, Nickolay Mladenov, dan Netanyahu.

2. Menolak Negara Palestina

Saat berbicara di hadapan kabinetnya pada hari Minggu, Netanyahu bersumpah bahwa "selama saya menjabat sebagai perdana menteri, tidak akan ada negara Palestina yang berdiri" dan menegaskan bahwa Israel tidak akan mematuhi rencana yang didukung AS tersebut.

Keinginan Israel akan "pelucutan senjata yang nyata, bukan pelucutan senjata semu" berarti penyingkiran seluruh persenjataan, termasuk senjata ringan, ujarnya.Rencana yang terdiri dari 15 poin tersebut menyerukan fokus awal pada persenjataan berat Hamas, lokasi produksi militer, gudang senjata, serta jaringan terowongan luas milik kelompok tersebut.

3. Israel Kuasai Separuh Wilayah Gaza

Pasukan Israel saat ini menduduki lebih dari separuh wilayah Gaza—di bagian timur dan selatan—dan para menteri senior telah mengisyaratkan keinginan untuk memperluas kendali mereka.

Anggota kabinet Netanyahu dari kelompok sayap kanan menyambut baik pernyataan Netanyahu tersebut.

"Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak boleh mundur satu milimeter pun di Jalur Gaza," ujar Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Penolakan Netanyahu terhadap inisiatif Trump akan semakin meregangkan hubungan erat di antara keduanya. Tahun lalu, ia menyebut presiden AS tersebut sebagai "sahabat terbaik yang pernah dimiliki negara Israel di Gedung Putih."

Trump pernah menyarankan agar Netanyahu diberikan pengampunan alih-alih menghadapi dakwaan korupsi; pada bulan Maret, ia menyatakan, "Presiden Herzog harus memberikan pengampunan kepada Bibi hari ini. Saya tidak ingin ada hal lain yang mengganggu pikiran Bibi selain perang dengan Iran."Namun, ketegangan juga meningkat terkait serangan Israel di Lebanon tahun ini, dan pemerintah Netanyahu hanya menerima gencatan senjata dengan Iran pada bulan April dengan berat hati.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan pernyataan Netanyahu menimbulkan "pertanyaan serius" bagi warga Palestina mengenai jalan keluar dari konflik ini.

Al Jazeera melaporkan syarat-syarat yang disampaikan Netanyahu bisa menjadi "masalah besar bagi Dewan Perdamaian dan para mediator yang telah berbulan-bulan berupaya mewujudkan pelucutan senjata Hamas".

Namun, dewan tersebut—yang dibentuk oleh Trump—memiliki "wewenang yang sangat terbatas" untuk melangkah maju tanpa dukungan Israel.

Sejak Hamas dan Israel menyepakati "gencatan senjata" pada bulan Oktober lalu, para ahli telah menyatakan keraguan bahwa Israel akan mematuhi kesepakatan tersebut, mengingat pasukannya terus menggempur Gaza dan menewaskan ratusan orang.

Sejak "gencatan senjata" dimulai pada pertengahan Oktober tahun lalu, setidaknya 1.250 orang tewas dan 4.120 orang terluka, dengan lebih dari 800 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Jumlah total korban jiwa di Gaza sejak Oktober 2023 mencapai sedikitnya 73.300 orang, sementara 174.000 orang lainnya terluka.

Topik Menarik