Iran Tuding Arab Saudi Terlalu Bergantung dengan Kekuatan Asing
Seorang anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengecam keras pakta pertahanan bersama yang baru antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki di tengah upaya Riyadh untuk memperkuat kemitraan keamanannya di tengah meningkatnya ketegangan di seluruh Timur Tengah.
Ketiga negara tersebut menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada hari Jumat, dengan komitmen bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari mereka akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Pakta ini digambarkan sebagai upaya untuk memperkuat "pencegahan kolektif" serta memperluas koordinasi militer dan kerja sama industri pertahanan.
Ebrahim Rezaei, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, menepis pakta tersebut dan menuduh Riyadh bergantung pada kekuatan asing demi perlindungan.
"Pihak Saudi harus tahu bahwa perjanjian di atas kertas dengan Türkiye dan Pakistan tidak akan memberikan keamanan bagi mereka, sama halnya seperti tindakan 'memeras' sepihak oleh Amerika selama bertahun-tahun yang tidak memberikan keamanan bagi mereka," tulisnya di X, dilansir RT.
"Ubahlah kebijakan kalian agar kalian tidak perlu mengemis keamanan dari pihak lain," tambahnya.Penandatanganan ini dilakukan saat Arab Saudi menyatakan menghadapi ancaman keamanan yang meningkat akibat perang AS-Israel melawan Iran, di mana Teheran dan pasukan yang bersekutu dengan Iran telah menyerang negara-negara Teluk yang dituduh membantu kampanye militer Washington.
Serangan besar terhadap Arab Saudi kini berpotensi menyeret Pakistan dan Turki ke dalam konflik tersebut berdasarkan pakta baru ini, sehingga memperluas cakupan perang yang selama ini sebagian besar coba dihindari oleh kedua negara. Namun, pernyataan bersama tersebut tidak merinci bantuan apa yang harus diberikan oleh masing-masing negara.
Perjanjian baru ini juga memicu kembali spekulasi mengenai munculnya "NATO Islam," mengingat besarnya produksi minyak dan pengaruh regional Arab Saudi, kekuatan militer serta persenjataan nuklir Pakistan yang masif, serta status Turki sebagai anggota NATO yang memiliki kekuatan militer terbesar kedua di aliansi tersebut.
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Kendati demikian, para pejabat Arab Saudi dan Turki menegaskan bahwa pakta ini murni bersifat defensif, tidak ditujukan untuk melawan negara tertentu, dan tidak dimaksudkan sebagai pembentukan blok militer atau keagamaan.
India, yang memiliki hubungan tegang dengan Pakistan maupun Turki namun menjalin hubungan erat dengan Arab Saudi, menyatakan sedang memantau kesepakatan baru tersebut dengan saksama.
Para ahli mencatat bahwa kerja sama yang lebih erat dapat memberikan akses lebih luas bagi Pakistan terhadap teknologi militer Turki dan dukungan finansial dari Arab Saudi. Namun, pakar Timur Tengah Mohammad Muddassir Quamar mengatakan kepada RT bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pakta ini akan mengubah keseimbangan keamanan di kawasan secara signifikan, mengingat banyak pakta serupa di antara negara-negara Islam pada masa lalu gagal membuahkan hasil nyata.





