Singapura Sudah Beli F-35 dan Kini Lirik Jet Tempur Generasi Ke-6, Bagaimana dengan Indonesia?
Singapura mulai menjajaki kemungkinan untuk terlibat dalam Global Combat Air Programme (GCAP), sebuah proyek pengembangan jet tempur generasi keenam oleh Inggris, Italia, dan Jepang. Upaya ini akan jadi gebrakan baru setelah tetangga Indonesia tersebut menjadi negara Asia Tenggara pertama yang membeli jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat (AS).
Langkah itu juga menunjukkan bahwa Singapura mulai mempersiapkan diri menghadapi era teknologi pesawat tempur generasi keenam yang diproyeksikan akan menggantikan Joint Strike Fighter (program yang menghasilkan F-35) di masa depan.
Baca Juga: Heboh Penampakan Pesawat Misterius di Langit China, Diduga Jet Tempur Siluman Generasi Ke-6
Menurut laporan Janes, Singapura telah memulai pembicaraan awal secara informal mengenai kemungkinan berpartisipasi dalam GCAP. Pembicaraan tersebut masih bersifat eksploratif, yang berarti pemerintah Singapura saat ini hanya mengumpulkan informasi, bukan sedang menegosiasikan keanggotaan dalam program tersebut.
Laporan itu juga menegaskan bahwa pemerintah Singapura belum mengambil keputusan untuk menjadi peserta GCAP. Hal tersebut dinilai wajar mengingat Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) masih menunggu kedatangan armada pertama pesawat tempur F-35 dari Amerika.GCAP merupakan program pengembangan sistem tempur udara generasi berikutnya yang dipimpin oleh Inggris, Jepang, dan Italia. Program ini bertujuan menghadirkan jet tempur generasi keenam Tempest beserta ekosistem tempur udara terpadu sekitar tahun 2035.
Setelah melemahnya prospek program Future Combat Air System (FCAS) di Eropa, GCAP kini menjadi proyek pengembangan jet tempur generasi keenam Barat paling ambisius di luar Amerika Serikat.
GCAP tidak hanya mencakup pesawat tempur Tempest berawak, tetapi juga ekosistem tempur modern yang melibatkan sistem kecerdasan buatan (AI), sensor generasi baru, jaringan komunikasi tempur terpadu, berbagai senjata udara canggih, pesawat nirawak otonom pendamping (loyal wingman).
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Sementara itu, RSAF dikenal sebagai salah satu Angkatan Udara paling modern di Asia Tenggara berkat investasi besar yang dilakukan pemerintah Singapura selama bertahun-tahun.Saat ini kekuatan tempurnya terdiri dari 40 unit F-15SG serta 49 unit F-16C/D varian Block 52 dan Block 52+.
Tahap berikutnya, RSAF akan menerima 8 unit F-35A versi lepas landas dan mendarat konvensional (CTOL), dan 12 unit F-35B versi lepas landas pendek dan mendarat vertikal (STOVL).
F-35B akan menjadi varian pertama yang diterima Singapura dengan pengiriman dimulai sebelum akhir tahun ini.
Pada tahap awal, pesawat-pesawat tersebut akan ditempatkan di Pangkalan Garda Nasional Udara Ebbing, Arkansas, Amerika Serikat, untuk pelatihan. F-35B pertama dijadwalkan mulai ditempatkan di Singapura pada 2029.
Tantangan Negara Kecil
Dengan luas wilayah kurang dari 280 mil persegi (sekitar 725 kilometer persegi), Singapura menghadapi tantangan tersendiri dalam mengoperasikan Angkatan Udara-nya.Untuk mendukung operasional F-35B, RSAF sedang memperpanjang landasan pacu di Pulau Sudong, sebuah pulau lepas pantai. Proyek ini bertujuan mengurangi kebisingan di kawasan permukiman padat.
Landasan tersebut akan diperpanjang dari sekitar 6.500 kaki menjadi hampir 9.800 kaki, dan ditargetkan selesai pada 2028.
Sebelumnya RSAF bahkan sempat mempertimbangkan membuka detasemen pelatihan di Guam akibat keterbatasan ruang latihan.Selama ini Singapura hampir selalu membeli pesawat tempur terbaik buatan Barat. Karena itu, mulai mempelajari satu-satunya proyek jet tempur generasi keenam Barat yang kemungkinan tersedia bagi Singapura dalam beberapa dekade mendatang dianggap sebagai langkah yang logis.
Jurnalis pertahanan Roy Choo mengatakan ketertarikan terhadap GCAP tidak berarti Singapura akan segera bergabung.
"Dari laporan ini tampaknya mereka mulai mengidentifikasi kebutuhan masa depan terhadap pesawat tempur generasi keenam. Namun kemungkinan besar hal itu baru akan berkembang menjadi program pengadaan resmi dalam dua dekade mendatang," ujarnya, seperti dikutip dari The War Zone.
Menurut Choo, seperti banyak negara lain, Singapura memang rutin berdialog dengan industri pertahanan untuk mengetahui perkembangan teknologi terbaru.
Dalam sekitar satu dekade ke depan, fokus utama RSAF diperkirakan tetap berada pada program pengadaan F-35A dan F-35B, serta memastikan kedua varian tersebut mencapai kemampuan operasional penuh.
Program besar berikutnya adalah modernisasi usia paruh baya armada F-15SG, yang diterima Singapura sejak 2008.
Modernisasi tersebut diperkirakan baru dimulai setelah peningkatan kemampuan armada F-16 selesai.Kepala Angkatan Udara Singapura, Mayor Jenderal Kelvin Fan, mengatakan F-16 akan tetap bertugas hingga pertengahan 2030-an, sedangkan F-15SG diperkirakan akan bertahan lebih lama lagi sehingga memberi waktu cukup panjang sebelum akhirnya digantikan pesawat generasi keenam.
Pendekatan Singapura terhadap GCAP dinilai serupa dengan langkahnya saat mengakuisisi F-35.
Singapura bergabung dalam program F-35 sebagai Security Cooperative Participant (SCP) pada 2003, ketika masih mempertimbangkan pesawat tersebut sebagai calon pengganti F-16.
Saat itu Singapura bahkan masih menerima pengiriman F-16 dan belum memilih pemenang Next Fighter Replacement Programme (NFRP). Baru pada 2005 negara itu memutuskan membeli F-15SG.
Menariknya, Singapura baru memesan empat unit F-35B pada 2020, atau 17 tahun setelah bergabung sebagai peserta SCP.
Hal tersebut mencerminkan karakter Singapura yang selalu mengambil keputusan pengadaan pertahanan dalam perspektif jangka panjang.
Faktor China
Jika akhirnya bergabung dengan GCAP, langkah itu kemungkinan merupakan bagian dari strategi jangka panjang membangun kemampuan jet tempur generasi keenam.Meski hubungan Singapura dengan Beijing relatif baik, negara itu menyadari kerentanannya terhadap meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, terutama ketika China terus memperkuat klaim wilayah yang luas di kawasan itu.Di saat yang sama, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) juga tengah mengembangkan pesawat tempur generasi keenam serta memperluas kemampuan anti-access/area denial (A2/AD), yang dinilai menjadi tantangan utama bagi negara-negara di kawasan.
Namun mengingat pendekatan Singapura yang sangat hati-hati dalam belanja pertahanan, kecil kemungkinan negara tersebut langsung menginvestasikan dana besar pada proyek yang masih berada pada tahap awal pengembangan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Jika dibandingkan dengan Singapura, pendekatan Indonesia lebih berbeda. Singapura sudah bergerak dari generasi ke-5 (F-35) sambil mulai mengintip generasi ke-6 (GCAP), sedangkan Indonesia saat ini masih berfokus membangun kekuatan tempur generasi 4,5 dan 5 sebelum melangkah ke generasi berikutnya.Kekuatan udara Indonesia akan diperkuat oleh jet tempur Rafale, di mana negara ini sudah memesan 42 unit Dassault Rafale dari Prancis, dan pengirimannya sudah dimulai.
Selain itu, kekuatan baru yang akan jadi penunjang adalah KF-21 Boramae. Indonesia semula menjadi mitra pengembangan pesawat tempur Korea Selatan tersebut, dengan harapan memperoleh alih teknologi dan hak produksi. Namun, kontribusi Indonesia sempat tersendat dan porsinya direvisi.
Laporan terbaru bahkan menyebut Jakarta mulai menjauh dari skema produksi bersama dan lebih mempertimbangkan opsi pembelian pesawat jadi daripada tetap menjadi mitra pengembangan.






