Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Pemimpin Hamas yang baru terpilih, Khalil al-Hayya, menguraikan enam prioritas untuk kelompok Palestina tersebut. Dia menempatkan penghentian menyeluruh serangan militer Israel di Gaza dan penarikan penuh Israel dari wilayah tersebut sebagai agenda utama.
Dalam pidato pertamanya yang disiarkan televisi sejak menjabat, Hayya menyerukan kepada negara-negara yang menjadi mediator negosiasi gencatan senjata untuk menekan pemerintah Israel agar menerapkan perjanjian yang ada dan melanjutkan ke fase berikutnya dari proses tersebut.
Ia mengatakan prioritas kedua Hamas adalah memulihkan “kondisi hidup yang bermartabat bagi warga Palestina di Gaza, menggagalkan rencana pengungsian, mempercepat upaya rekonstruksi, dan mengamankan pembebasan tahanan.”
Prioritas ketiga, katanya, adalah mencapai persatuan Palestina dengan meluncurkan dialog nasional segera untuk membangun kembali lembaga-lembaga Palestina, khususnya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), di atas apa yang ia gambarkan sebagai fondasi demokratis dan konsensual.
Hayya mengatakan prioritas keempat adalah memperkuat hubungan Hamas dengan negara-negara Arab dan Muslim.Prioritas kelima, tambahnya, adalah memobilisasi negara-negara Arab dan Muslim untuk mengambil tindakan efektif dan meningkatkan tekanan untuk menghentikan "mesin pembunuh dan genosida" Israel terhadap warga Palestina di Gaza sambil mendukung hak-hak Palestina.
Ia mengatakan prioritas keenam adalah mendesak komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melindungi warga Palestina dan meminta pertanggungjawaban "penjahat perang" Israel.
Pada hari Senin, Hamas mengumumkan terpilihnya Hayya sebagai kepala biro politiknya, menggantikan Yahya Sinwar, yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di kota Rafah, Gaza selatan, pada Oktober 2024.
Militer Israel melancarkan serangan brutal di Gaza sejak Oktober 2023, menewaskan lebih dari 73.000 orang, melukai hampir 174.000 orang, dan meninggalkan wilayah tersebut dalam reruntuhan sebelum gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025.
Baca juga: Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel

