Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan

Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan

Global | sindonews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 07:25
share

Kerja sama China dan Pakistan yang selama hampir satu dekade identik dengan pembangunan infrastruktur kini disebut memasuki fase baru yang berfokus pada transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi awan.

Abdul Hannan Mansoor, pengamat geopolitik dari University of London, menyebut perubahan tersebut menjadi bagian dari transisi menuju CPEC 2.0 atau fase baru China-Pakistan Economic Corridor (CPEC).

Baca Juga: Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan

Menurut Mansoor, kerja sama yang sebelumnya didominasi pembangunan jalan raya, pembangkit listrik tenaga batu bara, dan proyek konektivitas fisik kini bergeser ke sektor teknologi digital.

“Realitas yang sedang muncul adalah AI di Sungai Indus, yakni transfer sistematis kerangka kerja AI, perangkat keras pengawasan, dan alat tata kelola digital dari Beijing ke Islamabad,” sebut Mansoor, seperti dikutip dari Asia Times, Jumat (12/6/2026).

Dia menilai perubahan tersebut terjadi di tengah persaingan teknologi yang semakin intens antara Amerika Serikat dan China. Karena itu, integrasi digital China-Pakistan tidak lagi sekadar peningkatan kerja sama bilateral, tetapi juga bagian dari realignment geopolitik yang lebih luas.

Mansoor mengatakan telekomunikasi dan kecerdasan buatan kini telah bertransformasi dari sektor pelengkap menjadi prioritas strategis utama dalam hubungan kedua negara.

Menurut dia, daya tarik teknologi AI China bagi Pakistan muncul dari kebutuhan struktural negara tersebut.

Mengadopsi Standar China

Pakistan saat ini masih menghadapi keterbatasan modal dan tekanan dari program stabilisasi ekonomi IMF sehingga sulit membangun infrastruktur digital generasi berikutnya secara mandiri.

“China menawarkan solusi terintegrasi yang menggabungkan perangkat keras dan arsitektur komputasi awan, tetapi terdapat konsekuensi jangka panjang berupa ketergantungan teknologi,” papar Mansoor.

Dia menilai pembangunan basis data nasional dan infrastruktur digital penting di atas platform teknologi China akan mendorong Pakistan mengadopsi standar teknis dan standar data Beijing.

Kondisi tersebut, menurut dia, berpotensi menciptakan keterikatan institusional jangka panjang yang membuat diversifikasi teknologi di masa depan menjadi lebih sulit dan mahal.

Salah satu bentuk paling nyata dari transfer teknologi tersebut, kata Mansoor, terlihat dalam proyek Safe City yang diterapkan di sejumlah kota Pakistan.

Program itu memanfaatkan teknologi pengenalan wajah berbasis AI, pembaca pelat nomor otomatis, serta algoritma pemolisian prediktif yang dikembangkan perusahaan-perusahaan China.

Secara resmi, proyek tersebut dipromosikan sebagai upaya modernisasi untuk memerangi kriminalitas perkotaan dan ancaman militan.Namun, Mansoor menilai program itu juga mencerminkan ekspor model tata kelola algoritmik yang selama ini diterapkan China di dalam negeri.

“Dengan menanamkan kemampuan ini ke dalam aparat keamanan Pakistan, Beijing membantu membentuk panoptikon digital di sepanjang Sungai Indus,” imbuh dia.

Menurutnya, Pakistan memperoleh alat yang efisien untuk pengawasan dan kontrol negara, sementara China mendapatkan lingkungan operasional nyata untuk menguji dan mengembangkan sistem AI miliknya.

Hambatan Verifikasi

Mansoor juga menyoroti dampak potensial terhadap industri teknologi informasi Pakistan yang selama ini berkembang pesat.

Dia mengatakan strategi pembangunan nasional Pakistan mendorong konsep “E-Pakistan” yang bertumpu pada pertumbuhan sektor digital dan ekspor teknologi.

Namun pada saat yang sama, sebagian besar industri perangkat lunak Pakistan masih bergantung pada pasar Amerika Utara dan Eropa.

Menurut Mansoor, nilai ekspor sektor teknologi informasi Pakistan saat ini mendekati USD3,8 miliar dan sebagian besar berasal dari kontrak perusahaan Barat serta jaringan outsourcing Eropa.Dia memperingatkan bahwa meningkatnya integrasi dengan teknologi China dapat menimbulkan tantangan baru.

“Perusahaan teknologi Pakistan yang sangat terintegrasi dengan kerangka AI atau sistem penyimpanan data China dapat menghadapi hambatan verifikasi yang lebih ketat di pasar Barat,” terang Mansoor.

Akibatnya, Pakistan berisiko mengorbankan akses sektor ekonominya yang paling dinamis ke ekosistem teknologi Barat demi memperoleh infrastruktur digital bersubsidi dari China.

Lebih jauh, Mansoor menilai setiap transfer teknologi pada akhirnya berkaitan dengan persoalan kedaulatan digital.

Dia menyoroti semakin dalamnya keterlibatan perusahaan China dalam infrastruktur penting Pakistan, mulai dari jaringan listrik pintar hingga sistem pemantauan pertanian otomatis di kawasan Sungai Indus.

Risiko Ketergantungan Digital

“Jika data adalah komoditas utama ekonomi modern, Pakistan sedang menyerahkan hak eksplorasi lanskap digital domestiknya kepada satu kekuatan eksternal,” sambung Mansoor.

Menurut Mansoor, dalam situasi krisis geopolitik, ketergantungan tersebut dapat berkembang dari kerentanan ekonomi menjadi persoalan kedaulatan negara.Dia juga menilai kepemimpinan China kini mengharapkan hubungan politik yang erat dengan Pakistan diwujudkan melalui hasil ekonomi dan teknologi yang konkret.

Persahabatan yang selama ini dikenal sebagai “All-Weather Friendship” antara Beijing dan Islamabad disebut tengah disesuaikan dengan lingkungan global yang semakin kompetitif.

Mansoor memperingatkan bahwa apabila kerja sama teknologi itu hanya dipandang sebagai solusi jangka pendek terhadap masalah keuangan Pakistan, negara tersebut berisiko terjebak dalam ketergantungan digital yang semakin dalam.

“Untuk mempertahankan otonomi strategis, Islamabad harus memastikan transfer AI China disertai kepemilikan kode domestik, kebijakan lokalisasi data yang ketat, dan ruang yang terlindungi bagi pengembangan teknologi independen,” ujarnya.

Tanpa perlindungan tersebut, menurut Mansoor, transformasi digital Pakistan berpotensi menjadi instrumen yang semakin mengikat negara itu pada kepentingan strategis Beijing.

“Tanpa pengamanan itu, transformasi digital di Sungai Indus bukanlah lompatan menuju masa depan, melainkan jangkar algoritmik yang mengikat Pakistan pada imperatif strategis Beijing,” pungkasnya.

Topik Menarik