AS Bombardir Iran 2 Hari Berturut-turut saat Harga Minyak Melonjak
Amerika Serikat (AS) kembali membombardir Iran pada hari kedua berturut-turut, Kamis (11/6/2026), ketika harga minyak dunia melonjak. Harga minyak melonjak di atas USD93 per barel setelah Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan rencana serangan tambahan pada Rabu malam.
Serangan diluncurkan ketika Trump berusaha menekan Teheran agar menerima persyaratan perdamaian yang dia ajukan.
Baca Juga: Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Ledakan dan dampak dilaporkan terjadi di seluruh Iran selatan dan tengah beberapa jam setelah Menteri Perang Pete Hegseth mengatakan Komando Pusat AS atau CENTCOM “akan sibuk malam ini".
“Karena Presiden Trump mengatakan kita akan menyerang Iran dengan keras—dan kita akan melakukannya,” kata Hegseth.
Bos Pentagon itu mengatakan serangan hari kedua ini akan menargetkan fasilitas-fasilitas penting di Iran dan menambahkan bahwa Teheran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan dengan Washington.Hegseth menolak pertanyaan seorang jurnalis tentang apakah serangan terhadap jembatan dan infrastruktur sipil lainnya di Iran dapat dianggap sebagai kejahatan perang.“Itulah tepatnya jenis pertanyaan tidak jujur yang biasa saya terima dari media, yang mempertanyakan motif orang-orang di pihak kami yang sangat profesional dan sangat efektif,” kata Hegseth.
“Kami akan menyerang mereka dengan keras sesuai syarat kami,” imbuh dia, seperti dikutip dari Russia Today.
Permusuhan tersebut menandai eskalasi terbesar sejak gencatan senjata tercapai pada bulan April.
Meskipun Trump bersikeras bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, negosiasi telah terhenti selama berminggu-minggu, dengan kedua pihak saling menuduh melakukan itikad buruk dan pelanggaran gencatan senjata.Pekan lalu, Iran mengancam akan menangguhkan pembicaraan sebagai tanggapan atas serangan udara Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Syarat Teheran untuk perjanjian perdamaian termasuk penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon—tempat Israel telah melancarkan perang melawan Hizbullah sejak awal Maret. Israel dan Iran saling melancarkan serangan pada hari Senin.
Uni Eropa Beri Sanksi ke Pemukim Israel karena Penjajahan Ekstremis terhadap Warga Palestina
Pada hari Rabu, AS melancarkan serangan di Iran sebagai tanggapan atas apa yang digambarkan sebagai jatuhnya helikopter serang Amerika AH-64 Apache di dekat Selat Hormuz. Iran membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut dan membalas dengan serangan rudal yang menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut.
Sementara itu, Komando Pusat Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk semua pelayaran komersial dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan ditembak.
Selat tersebut, yang biasanya menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dan LNG dunia melalui jalur laut, sebagian besar tetap tertutup sejak AS dan Israel melancarkan kampanye pengeboman mereka terhadap Iran pada akhir Februari.
Sebelumnya, Iran menuduh AS menghancurkan dua waduk air di provinsi selatan Hormozgan, memutus pasokan air minum bagi lebih dari 20.000 penduduk.Media AS; Axios, mengutip pejabat Amerika, melaporkan bahwa Washington berharap dapat menggunakan serangan tersebut untuk menekan Iran agar menandatangani kesepakatan damai dengan syarat Trump.
Menurut laporan tersebut, AS menargetkan pertahanan udara Iran, sistem radar, dan unit komando dan kendali drone.
CENTCOM mengatakan AS telah mulai melakukan “serangan pertahanan diri tambahan” terhadap beberapa target di Iran. “Serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan,” kata CENTCOM.
Menurut kantor berita Iran; IRNA, ledakan terdengar di Provinsi Fars selatan Iran, dekat Selat Hormuz, serta di kota Isfahan di Iran tengah. Sistem pertahanan udara Iran telah diaktifkan.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan bahwa kampanye melawan Iran masih jauh dari selesai.
“Jika Iran menyerang Israel, mereka akan menerima pukulan berat seperti yang kami berikan beberapa hari lalu. IDF [militer Israel] siap menyerang Iran dengan kekuatan besar,” katanya, yang dikutip The Times of Israel.



