Dari Media hingga Kampus, Pengaruh China di Albania Kian Meluas
Kekhawatiran terhadap pengaruh China di ruang informasi Albania semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Para analis di kawasan Balkan dan Uni Eropa menilai Beijing mulai memperluas pengaruhnya melalui media, diplomasi budaya, dan kerja sama akademik.
Reporters Without Borders (RSF), organisasi pemantau kebebasan pers, mewawancarai Direktur Eksekutif The Center for Science and Innovation for Development (SCiDEV) Albania, Blerjana Bino, mengenai dampak strategi informasi China terhadap demokrasi dan media Albania.
Baca Juga: Dari Jimmy Lai hingga Xinjiang, Isu HAM Tak Lagi Jadi Fokus Utama AS-China
Menurut laporan SCiDEV dan Balkan Investigative Reporting Network (BIRN) pada 2023, sekitar 84 persen artikel berbahasa Albania yang diterbitkan media pemerintah China Radio International berfokus pada tujuh tema utama, termasuk ekonomi, budaya Albania, geopolitik, teknologi, dan politik China.
Laporan tersebut menyebut Beijing secara halus menyisipkan narasi politiknya dalam isu-isu yang relevan bagi masyarakat Albania.Bino mengatakan Albania sebelumnya dianggap relatif kebal terhadap pengaruh asing dibanding negara Balkan lain seperti Serbia dan Montenegro.
Namun persepsi itu mulai berubah setelah meningkatnya perhatian Uni Eropa terhadap disinformasi di kawasan Balkan Barat, terutama sejak pandemi COVID-19 dan perang Ukraina.
“Ekosistem informasi Albania memiliki kerentanan struktural yang membuatnya rentan terhadap manipulasi asing,” kata Bino, dalam keterangan yang dimuat di situs RSF, Jumat (22/5/2026).
Diplomasi Publik dan Propaganda
Dia menjelaskan pasar media Albania relatif kecil, dengan kepemilikan media terkonsentrasi dan hubungan erat antara pemilik bisnis, media, dan aktor politik.Selain itu, rendahnya standar jurnalistik dan lemahnya independensi editorial juga membuat penyebaran informasi menyesatkan lebih mudah terjadi.
Menurut Bino, dalam kasus China, strategi yang digunakan berbeda dengan kampanye disinformasi agresif.
“Ketika menyangkut China, yang terlihat lebih dominan adalah diplomasi publik dan propaganda,” ujarnya.
China Radio International disebut menjadi salah satu instrumen utama Beijing dengan menyiarkan berita dalam bahasa Albania.
Sebagian besar kontennya membahas perkembangan sehari-hari di Albania sambil menyajikan perspektif China mengenai isu global.
Selain itu, kantor berita Xinhua dan sejumlah portal media lokal disebut memiliki kecenderungan editorial yang sejalan dengan narasi Beijing.Bino mengatakan pengaruh China juga terlihat melalui kerja sama dengan media publik Albania.
Beberapa tahun lalu, penyiar publik Albania menandatangani kerja sama untuk menayangkan dokumenter mengenai hubungan Albania-China, termasuk aspek sejarah, ekonomi, dan budaya.
Kerja sama itu menuai kritik karena dinilai menjadikan media publik sebagai sarana propaganda China.
Hubungan Albania-China
Selain media, Beijing juga memperluas pengaruh melalui diplomasi budaya dan akademik.Institut Konfusius di Universitas Tirana disebut menjadi salah satu contoh instrumen soft power China di Albania.
Universitas-universitas di Albania juga mulai meningkatkan kerja sama akademik dengan institusi China.
Dalam dimensi ekonomi, Albania memang tidak terlibat langsung dalam proyek Belt and Road Initiative seperti Serbia atau Montenegro.Namun Bino menilai terdapat sinyal politik baru dari Perdana Menteri Albania Edi Rama yang menunjukkan keterbukaan lebih besar terhadap hubungan dengan Beijing.
Salah satu contohnya adalah ketika Rama mengundang perwakilan Kedutaan Besar China dan mahasiswa China dalam podcast pribadinya untuk mempromosikan terjemahan bahasa Albania buku The New China Playbook.
“Dia bahkan menyebut mereka sebagai perwakilan dari ‘China baru’ dan mengaitkannya dengan fase baru hubungan Albania-China,” kata Bino.
Meski demikian, dia menilai pendekatan China di Albania tetap dilakukan secara hati-hati dan tidak konfrontatif.
“China tidak memosisikan dirinya melawan tujuan strategis Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa,” ujarnya.
Narasi Alternatif
Narasi utama Beijing, menurut Bino, lebih berfokus pada citra China sebagai negara sukses, stabil, dan mitra global yang menawarkan kerja sama tanpa syarat politik.Model tersebut secara implisit dibandingkan dengan pendekatan Uni Eropa yang lebih menekankan demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola pemerintahan.Bino memperingatkan paparan jangka panjang terhadap narasi tersebut dapat memengaruhi persepsi publik mengenai demokrasi dan sistem politik.
“Secara bertahap, hal ini dapat menormalisasi model politik China sebagai alternatif yang sah,” katanya.
Dia menambahkan, ketidakpuasan sebagian warga Albania terhadap proses transisi demokrasi setelah era komunisme menciptakan ruang bagi narasi alternatif tersebut berkembang.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi memengaruhi cara masyarakat memandang nilai-nilai demokrasi, kebebasan berekspresi, hingga tata kelola digital dan kecerdasan buatan.
“Paparan terhadap narasi alternatif ini dapat secara halus mengubah cara nilai-nilai tersebut dipersepsikan atau diprioritaskan,” ujar Bino.








