Trump Marah atas Respons Iran terhadap Proposal AS: 'Sama Sekali Tak Dapat Diterima!'

Trump Marah atas Respons Iran terhadap Proposal AS: 'Sama Sekali Tak Dapat Diterima!'

Global | sindonews | Senin, 11 Mei 2026 - 07:10
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kemarahannya setelah Iran merespons proposal Amerika yang bertujuan untuk mengurangi permusuhan di Timur Tengah dan wilayah Teluk. Dia menyebut respons republik Islam itu "sama sekali tidak dapat diterima".

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Senin (11/5/2026), Trump mengatakan dia tidak senang dengan pesan yang diterima dari perwakilan Iran.

Baca Juga: Hanya Bertahan 48 Jam, Project Freedom Trump Gagal Bebaskan 1.600 Kapal di Selat Hormuz

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya—SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,” tulis Trump dengan ciri khasnya yang menggunakan huruf kapital sebagai penegasan.

Ini Respons Iran yang Bikin Trump Marah

Unggahan Trump muncul tak lama setelah media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah secara resmi merespons proposal terbaru AS melalui mediator Pakistan.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh kantor berita IRNA milik negara, Teheran mengirimkan reaksinya terhadap proposal Washington untuk mengakhiri perang dan mengurangi ketegangan di kawasan tersebut.“Republik Islam Iran hari ini mengirimkan, melalui mediator Pakistan, responsnya terhadap teks terbaru yang diusulkan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri perang,” tulis IRNA dalam laporannya.

“Menurut rencana yang diusulkan, pada tahap ini, negosiasi akan fokus pada pengakhiran perang di kawasan tersebut,” lanjut laporan itu.

Menurut laporan itu, draf tanggapan Iran mencakup beberapa tuntutan yang ditujukan kepada Washington. Yakni, Teheran meminta Amerika Serikat untuk mencabut sanksi terhadap Iran, mengakhiri blokade pelabuhan Iran, menarik pasukan Amerika dari kawasan tersebut, dan menghentikan semua permusuhan.

Respons tersebut, menurut laporan itu, juga mencakup tuntutan untuk mengakhiri perang Israel di Lebanon.

Tanggapan Iran muncul setelah pernyataan berulang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei, yang mengatakan bahwa "pandangan dan pertimbangan" Teheran tentang proposal yang dikirim Amerika akan dibagikan setelah tinjauan lengkap selesai.Pertukaran diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Pejabat Iran baru-baru ini memperingatkan bahwa Teheran akan berhenti mengikuti apa yang mereka sebut sebagai kebijakan pengekangan strategis terkait serangan balasan. Peringatan tersebut menyusul laporan dari negara-negara Teluk tentang permusuhan maritim dan teritorial baru, termasuk serangan terhadap kapal kargo yang berlayar menuju Qatar.

Trump juga menggunakan momen tersebut untuk melancarkan serangan terhadap para mantan presiden AS, terutama Barack Obama, menuduh pemerintahan sebelumnya membantu Iran secara finansial dan politik.

Dalam unggahan panjang lainnya di Truth Social, dia mengklaim Iran telah menghabiskan "47 tahun" menipu Amerika Serikat melalui apa yang dia gambarkan sebagai strategi "penundaan, penundaan, penundaan"!

"Iran telah bermain-main dengan Amerika Serikat, dan seluruh dunia, selama 47 tahun (PENUNDAAN, PENUNDAAN, PENUNDAAN!), dan akhirnya menemukan 'kesempatan emas' ketika Barack Hussein Obama menjadi Presiden," tulis Trump.

Dia menuduh pemerintahan Obama saat itu memberi Iran "kesempatan baru yang besar dan sangat kuat" melalui keringanan sanksi dan pengaturan keuangan di bawah kesepakatan nuklir 2015.“Ratusan miliar dolar, dan 1,7 miliar dolar dalam bentuk uang tunai hijau, yang diterbangkan ke Teheran, diberikan kepada mereka di atas piring perak,” klaim Trump.

Dia selanjutnya mengatakan, "Iran akhirnya menemukan korban terbesar dari semuanya, dalam wujud Presiden Amerika yang lemah dan bodoh."

Lebih lanjut, Trump menargetkan mantan Presiden Joe Biden, dengan mengatakan "Obama adalah bencana sebagai 'Pemimpin' kita, tetapi tidak seburuk Joe Biden yang mengantuk”!

Sebelumnya pada hari Minggu, selama wawancara dengan jurnalis Sharyl Attkisson, Trump mengatakan Amerika Serikat terus memantau persediaan uranium yang diperkaya Iran dan memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengakses situs-situs tersebut akan memicu aksi militer.

Dia mengeklaim kemampuan militer Iran telah rusak parah. “Mereka tidak memiliki Angkatan Laut, tidak memiliki Angkatan Udara, mereka tidak memiliki persenjataan anti-pesawat, tidak memiliki pemimpin,” katanya selama wawancara.Dia juga berpendapat bahwa militer dan infrastruktur Iran telah mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga jika Amerika Serikat mundur sekarang, Teheran akan membutuhkan “20 tahun untuk membangun kembali”.

Ketika ditanya apakah operasi tempur AS di kawasan itu telah berakhir, Trump menyatakan bahwa aksi militer dapat berlanjut. Dia memperkirakan bahwa pasukan Amerika telah menghancurkan sekitar 70 persen dari target yang dituju.

Mengulangi penentangannya terhadap ambisi nuklir Iran, dia mengatakan komunitas internasional tidak dapat membiarkan apa yang disebutnya sebagai rezim “gila” untuk memperoleh senjata nuklir.

Presiden AS juga membela keputusannya untuk menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, dengan alasan bahwa Iran pada akhirnya akan menggunakan senjata nuklir terhadap Israel dan Timur Tengah secara lebih luas jika kesepakatan itu berlanjut.

Topik Menarik