AS Bilang Perang Berakhir, tapi Jet Tempur F/A-18 Amerika Serang Kapal Tanker Iran
Sebuah jet tempur F/A-18 Super Hornet Amerika Serikat (AS) telah menembaki dan melumpuhkan kapal tanker minyak berbendera Iran di Teluk Oman pada Rabu waktu setempat. Ini kontradiksi dengan pengumumanMenteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio yang menyatakan perang Amerika-Israelterhadap Iran telah berakhir karena tujuan telah tecapai.
"Kami lebih memilih jalan perdamaian. Yang lebih disukai presiden [Donald Trump] adalah kesepakatan," kata Rubio.
Baca Juga: Menlu AS: Perang Iran Resmi Berakhir
Serangan terhadap kapal tanker minyak Iran terjadi sesaat setelah Presiden Amerika Donald Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman kecuali Teheran setuju untuk mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang ditetapkan Washington.
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan kapal tanker tanpa muatan, yang diidentifikasi sebagai M/T Hasna, berusaha berlayar menuju pelabuhan Iran pada hari Rabu.Layanan Kereta Api Dihentikan di Mashhad Iran usai Ancaman Israel, IRGC Sebut Perang Bisa Meluas
Menurut CENTCOM, kapal itu melanggar blokade Angkatan Laut Amerika, yang tetap berlaku meskipun keputusan mendadak Trump sehari sebelumnya untuk menghentikan sementara Project Fredom atau Proyek Kebebasan—sebuah operasi militer untuk mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz.CENTCOM mengatakan pasukan AS mengeluarkan beberapa peringatan sebelum jet tempur F/A-18 Super Hornet yang diluncurkan dari kapal induk USS Abraham Lincoln menembakkan beberapa peluru meriam 20mm ke kemudi kapal tersebut, mencegahnya melanjutkan perjalanan menuju Iran.
Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum baru kepada Teheran, memperingatkan bahwa Operasi Epic Fury "yang sudah melegenda" hanya akan berakhir jika Iran menerima persyaratan yang menurutnya telah disepakati.
"Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya, akan jauh lebih tinggi dan lebih intensif daripada sebelumnya," tulisnya di Truth Social.
Trump tetap optimistis, mengatakan kepada PBS pada hari Rabu bahwa ada "peluang yang sangat bagus" perang dapat berakhir sebelum perjalanannya yang direncanakan ke China. Namun, dia menegaskan kembali bahwa "Jika tidak, AS akan kembali membombardir mereka habis-habisan."
Iran Desak UNESCO Kutuk Ancaman Israel Serang Jalur Kereta Api, Pakar Peringatkan Kejahatan Perang
Washington dan Teheran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan satu halaman berisi 14 poin yang akan mengakhiri perang dan membuka periode 30 hari untuk negosiasi yang lebih rinci, menurut sumber AS yang dikutip Axios, Kamis (7/5/2026). Kerangka kerja yang diusulkan dilaporkan akan mencakup moratorium Iran terhadap pengayaan uranium, peningkatan inspeksi, pencabutan sanksi AS secara bertahap, pelepasan dana Iran yang dibekukan, dan pelonggaran pembatasan pengiriman secara bertahap.
Sumber di Pakistan yang dikutip Russia Today mengatakan kemajuan dalam proses perdamaian tetap "agak lambat", dengan beberapa masalah yang belum terselesaikan masih dalam pembahasan.
Teheran belum secara resmi menanggapi proposal AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan teks tersebut masih dalam peninjauan, dan memperingatkan bahwa negosiasi membutuhkan "itikad baik" dan tidak boleh berujung pada "dikte", "penipuan", "pemerasan", atau "pemaksaan".
Para pejabat militer Iran juga menunjukkan sikap menantang sebelum laporan tentang insiden serangan terhadap kapal tanker muncul.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi memperingatkan bahwa jika Washington menggunakan pembicaraan sebagai kedok untuk agresi lebih lanjut, Iran akan merespons dengan tegas dan memberikan "kekalahan yang memalukan".










