AS Hamburkan Senjata Rp603 Triliun dalam Perang Iran, dari Rudal Patriot hingga Tomahawk

AS Hamburkan Senjata Rp603 Triliun dalam Perang Iran, dari Rudal Patriot hingga Tomahawk

Global | sindonews | Jum'at, 24 April 2026 - 14:57
share

"Perang pilihan" Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Iran telah memberikan tekanan besar pada kapasitas perang AS, dengan perkiraan internal Pentagon menunjukkan bahwa militer telah menghabiskan ribuan persediaan senjata kelas atas, termasuk rudal jelajah Tomahawk dan rudal pencegat Patriot.

Respons Iran terhadap serangan AS-Israel pada 28 Februari memaksa pasukan AS untuk mengambil persediaan senjata mereka secara besar-besaran—yang awalnya dimaksudkan untuk digunakan selama kemungkinan kampanye militer melawan musuh utama seperti China dan Rusia.

Baca Juga: Bukan Mojtaba Khamenei, tapi Para Jenderal yang Menjalankan Negara Iran

Sejauh ini, Gedung Putih belum merilis perkiraan biaya konflik tersebut, tetapi dua kelompok independen mengatakan pengeluaran berkisar antara USD28 miliar (lebih dari Rp482 triliun) hingga USD35 miliar (lebih dari Rp603 triliun) atau hampir USD1 miliar (Rp17,23 triliun) per hari.

Dalam dua hari pertama saja, laporan dari kelompok-kelompok independen mengeklaim, militer AS telah menggunakan amunisi senilai USD5,6 miliar.

Persediaan Rudal AS Digunakan di Iran

Mengutip perkiraan internal Departemen Perang, The New York Times melaporkan bahwa militer AS telah menembakkan sekitar 1.100 rudal Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER)—yang mendekati total 1.500 rudal yang tersisa dalam persediaan AS.JASSM-ER memiliki jangkauan lebih dari 600 mil dan dirancang untuk menembus target keras di luar jangkauan pertahanan udara musuh. Harganya sekitar USD1,1 juta per unit.

Militer Amerika juga telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk di Iran, yang kira-kira 10 kali lipat dari jumlah yang saat ini dibeli setiap tahun. Dengan harga sekitar USD3,6 juta per unit, Tomahawk adalah rudal jelajah jarak jauh yang telah banyak digunakan untuk peperangan AS sejak Perang Teluk Persia pertama pada tahun 1991 dan tetap menjadi amunisi kunci untuk potensi konflik di masa depan bagi AS.

Menurut sebuah studi Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS hanya memiliki 3.000 rudal Tomahawk dalam persediaannya.

Menurut laporan The New York Times, Pentagon juga telah menembakkan lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot dalam perang tersebut, dengan biaya lebih dari USD4 juta per unit. Amerika Serikat memproduksi sekitar 600 rudal pencegat Patriot sepanjang tahun 2025.

Pasukan AS juga telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal berbasis darat Precision Strike dan ATACMS, sehingga persediaan menjadi sangat rendah, imbuh laporan itu.Pentagon belum mengungkapkan berapa banyak amunisi yang digunakan dalam 38 hari perang sebelum gencatan senjata berlaku lebih dari dua minggu lalu.

Militer AS mengatakan telah menyerang lebih dari 13.000 target, tetapi para pejabat mengatakan kepada The New York Times bahwa angka tersebut menyembunyikan jumlah bom dan rudal yang sangat banyak yang digunakan karena pesawat tempur, pesawat serang, dan artileri biasanya menyerang target besar berkali-kali.

Perang Iran Mengungkap Kelemahan Militer AS

Perang di Iran telah menguras sebagian besar pasokan amunisi global militer AS, karena Pentagon mengirimkan bom, rudal, dan perangkat keras lainnya ke Timur Tengah dari komando di Asia dan Eropa untuk mendukung operasi tersebut. Hal ini membuat komando regional lainnya kurang siap tempur untuk menghadapi potensi konfrontasi dengan musuh di kawasan tersebut, seperti Rusia dan China.

Perang ini juga telah mengungkap ketergantungan Pentagon yang berlebihan pada rudal dan amunisi yang sangat mahal, terutama pencegat pertahanan udara, menimbulkan kekhawatiran tentang apakah industri pertahanan dapat mengembangkan senjata yang lebih murah, terutama drone serang, jauh lebih cepat.

Pentagon telah meminta Kongres untuk pendanaan tambahan sebelum dapat membayar produsen senjata untuk mengisi kembali pasokan Amerika yang menipis dan sedang menunggu persetujuan.Namun, pemulihan persediaan global AS ke ukuran sebelumnya mungkin membutuhkan waktu. Sementara itu, Washington mungkin harus mengurangi kekuatan militernya.

"Dengan tingkat produksi saat ini, membangun kembali apa yang telah kita habiskan bisa memakan waktu bertahun-tahun," kata Senator Jack Reed dari Rhode Island, politisi terkemuka Partai Demokrat yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata, kepada The New York Times.

"Amerika Serikat memiliki banyak amunisi dengan persediaan yang memadai, tetapi beberapa amunisi serangan darat dan pertahanan rudal yang penting kekurangan sebelum perang dan bahkan lebih kekurangan sekarang," kata Mark F Cancian, seorang kolonel Korps Marinir purnawirawan dan penasihat senior di CSIS.

Reaksi Tim Trump

Gedung Putih telah menolak laporan tersebut, mengeklaim "seluruh premis cerita ini salah".

"Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia, yang dilengkapi sepenuhnya dengan senjata dan amunisi yang lebih dari cukup dalam persediaan di dalam negeri dan di seluruh dunia untuk secara efektif mempertahankan tanah air dan mencapai operasi militer apa pun yang diperintahkan oleh panglima tertinggi," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah pernyataan kepada The New York Times.

Topik Menarik