Perundingan Gagal, AS-Israel dan Iran Akan Perang Lagi?
Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir pada Minggu (12/4/2026) tanpa mencapai kesepakatan. Kegagalan ini mengancam perang Amerika-Israel melawan Iran—yang ditangguhkan dua pekan—bisa berkobar lagi.
Sesuai kesepakatan gencatan senjata, pertempuran dihentikan mulai Rabu, 8 April, hingga dua pekan atau setidaknya hingga 22 April.
Baca Juga: Mengapa Perundingan 21 Jam AS-Iran Gagal? Ini Jawaban Versi Kedua Kubu
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim perang melawan Iran telah berhasil menghancurkan program nuklir dan rudal balistik republik Islam tersebut, menambahkan bahwa Washington dan Tel Aviv telah "mencekik" Teheran.
"Kampanye ini belum berakhir, tetapi sudah jelas bahwa kita telah mencapai prestasi bersejarah. Iran mencoba mengepung kita dengan cekikan—Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, rezim Assad di Suriah, milisi di Irak, Houthi di Yaman. Iran sendiri ingin mencekik kita, tetapi kita mencekik mereka. Mereka mengancam kita dengan pemusnahan dan sekarang mereka berjuang untuk bertahan hidup," katanya, berbicara tentang perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.Pernyataan Netanyahu disampaikan sesaat setelah perundingan damai AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.Pada Minggu pagi, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan tidak ada kemajuan yang dicapai meskipun telah dilakukan pembicaraan selama 21 jam antara kedua pihak. Dia mengatakan berita ini buruk, tetapi lebih buruk bagi Iran daripada AS.
Vance mengatakan AS memasuki pembicaraan dengan itikad baik dan fleksibel, tetapi tidak dapat memperoleh komitmen yang jelas dan tegas dari Iran bahwa mereka tidak akan mencari atau mengembangkan senjata nuklir di masa depan, yang ia gambarkan sebagai tuntutan inti AS.
Teheran menyalahkan kegagalan perundingan tersebut pada tuntutan AS yang "tidak masuk akal". Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengatakan delegasi Iran mengajukan berbagai inisiatif tetapi kemajuan terhambat oleh pihak AS, memaksa pembicaraan berakhir tanpa hasil.
Menjadi tuan rumah pembicaraan yang berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh di wilayah Teluk, Pakistan menegaskan bahwa kedua belah pihak harus menjunjung tinggi perjanjian gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Ishaq Dar mengatakan, "Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat di hari-hari mendatang."Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah menang "secara militer", dengan pasukan Iran yang telah dihancurkan. Dia juga memperingatkan bahwa dukungan China untuk Iran dalam perang akan menimbulkan masalah bagi Beijing.
Perkembangan ini terjadi bahkan ketika AS mengeklaim dua kapal perangnya memasuki Selat Hormuz yang kritis untuk membersihkan ranjau yang dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Namun, Iran membantah klaim tersebut.
Iran menegaskan kembali bahwa kapal militer apa pun yang memasuki selat tersebut akan "dihukum dengan kejam".










