Iran Siap Sikat 3.000 Pasukan Lintas Udara AS, Luncurkan Gelombang Serangan ke-79

Iran Siap Sikat 3.000 Pasukan Lintas Udara AS, Luncurkan Gelombang Serangan ke-79

Global | sindonews | Rabu, 25 Maret 2026 - 15:25
share

Iran mengeluarkan peringatan langsung kepada Divisi Lintas Udara ke-82 Amerika Serikat (AS) setelah muncul laporan Washington sedang bersiap mengerahkan sekitar 3.000 pasukan ke Timur Tengah. Peringatan tersebut secara eksplisit merujuk pada penarikan USS Gerald Ford dan USS Abraham Lincoln, yang digambarkan sebagai contoh aset militer AS yang terpaksa meninggalkan wilayah tersebut di bawah tekanan.

Menyertakan peringatan kepada unit elit AS tersebut, para pejabat Iran mengisyaratkan pengerahan pasukan baru tidak akan mengubah keseimbangan di lapangan, tetapi justru akan mengekspos pasukan Amerika tambahan pada konfrontasi langsung.

Divisi Lintas Udara ke-82 adalah salah satu unit respons cepat paling terkemuka militer AS, yang mampu dikerahkan di belakang garis musuh dan mengamankan posisi strategis seperti bandara dan pusat komunikasi.

Potensi pengerahan pasukan ini menunjukkan Washington sedang mempersiapkan skenario yang melampaui operasi udara dan laut.

Menurut pejabat AS yang dikutip dalam laporan media utama, Pentagon sedang mempertimbangkan misi yang dapat mencakup pengamanan infrastruktur utama, dengan Pulau Kharg Iran—salah satu terminal ekspor energi terpenting negara itu—sering disebut sebagai target potensial.

Iran Perluas Kampanye Rudal dengan Serangan Multi-Target

Di medan perang, Iran mengumumkan gelombang serangan rudal dan drone baru sebagai bagian dari kampanye yang sedang berlangsung, menandakan upaya militer yang berkelanjutan dan terkoordinasi.

Menurut pernyataan militer Iran, gelombang operasi ke-78 dan ke-79 menargetkan berbagai lokasi, termasuk fasilitas penerbangan di dekat Bandara Ben Gurion, infrastruktur industri militer di Haifa, dan lokasi yang terkait dengan intelijen di seluruh Israel tengah dan selatan.

Serangan tersebut dilaporkan melibatkan sistem rudal balistik canggih seperti Emad, Qadr, Sejjil, dan Kheibar Shekan, bersamaan dengan serangan drone terkoordinasi yang dirancang untuk melumpuhkan pertahanan udara.

Iran juga mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal jelajah, termasuk sistem tipe Tomahawk, serta drone musuh yang mencoba menembus wilayah udaranya.

Jangkauan target yang semakin luas—terutama yang terkait dengan penerbangan, logistik, dan intelijen—menunjukkan Iran berfokus pada penurunan kapasitas operasional jangka panjang daripada melakukan serangan balasan terisolasi.

Kekuatan Angkatan Laut AS Menunjukkan Ketegangan saat Kapal Induk Mundur

USS Gerald Ford, kapal induk paling canggih dan mahal dalam armada AS, terpaksa mundur dari Timur Tengah setelah terjadi kebakaran di atas kapal, yang menyebabkan kapal tersebut menuju Kreta dan dikeluarkan dari operasi aktif.

Insiden tersebut, meskipun secara resmi digambarkan terbatas pada area non-tempur, telah menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang kesiapan dan keandalan aset militer utama AS dalam skenario konflik berkepanjangan.

Penarikan ini terjadi bersamaan dengan kepergian USS Abraham Lincoln sebelumnya, yang semakin mengurangi jumlah kelompok serang kapal induk AS yang tersedia di wilayah tersebut.

Perkembangan ini menunjukkan peningkatan tekanan pada pasukan angkatan laut AS, yang telah menjadi pusat kemampuan Washington untuk memproyeksikan kekuatan di kawasan tersebut.

Para pejabat Iran telah berulang kali menyoroti penarikan pasukan ini sebagai bukti bahwa kehadiran militer AS lebih rentan daripada yang sering digambarkan, dan menggunakannya sebagai bagian dari narasi yang lebih luas tentang pergeseran keseimbangan.

Baca juga: AL Inggris Siap Pimpin Koalisi untuk Buka Lagi Selat Hormuz

Topik Menarik