Mojtaba Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump: Dia Harus Dapat Persetujuan AS, Jika Tidak...

Mojtaba Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump: Dia Harus Dapat Persetujuan AS, Jika Tidak...

Global | sindonews | Senin, 9 Maret 2026 - 07:11
share

Mojtaba Khamenei, putra almarhum Ayatollah Ali Khamenei, telah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump langsung meremehkannya.

Ali Khamenei memimpin Iran dari tahun 1989 hingga kematiannya selama gelombang pertama serangan Amerika Serikat (AS)-Israel di Teheran pada 28 Februari.

Baca Juga: Ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei Jadi Target Pembunuhan Israel

Majelis Pakar Iran, yang bertugas menyeleksi dan memilih pemimpin tertinggi, mengumumkan pada hari Minggu bahwa Mojtaba Khamenei telah dipilih setelah pertimbangan yang tepat dan menyeluruh.

“Dalam sesi luar biasa hari ini, Majelis Pakar, dengan suara menentukan dari para anggotanya, memilih dan memperkenalkan Ayatollah Seyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” kata majelis tersebut dalam sebuah pernyataan.

“Sebagai penutup...(Majelis) menyerukan kepada rakyat Iran yang mulia, khususnya para elite dan intelektual seminari dan universitas, untuk bersumpah setia kepada kepemimpinan dan menjaga persatuan di sekitar poros penjagaan,” lanjut pernyataan tersebut.Lahir pada tahun 1969, Mojtaba adalah anak kedua dari enam anak Ali Khamenei. Sebagai seorang pemuda, dia berjuang sebagai sukarelawan selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an dan kemudian belajar agama di Qom, salah satu kota tersuci di Iran dan pusat utama teologi Syiah.

Saudari Mojtaba dan beberapa kerabat lainnya tewas dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya. Media Israel melaporkan bahwa Mojtaba sendiri terluka dalam serangan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melalui sayap medianya; Sepah, telah menyatakan kesetiaan kepada pemimpin tertinggi yang baru.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, berterima kasih kepada Majelis Pakar karena telah mengadakan pertemuan meskipun terjadi serangan udara yang berkelanjutan dari AS-Israel, termasuk serangan pekan lalu terhadap markas Majelis di Qom.

Dia mengatakan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi yang baru berlangsung tepat waktu dan tertib meskipun ada "tipu daya musuh yang berharap terjadi kebuntuan" setelah kematian Ali Khamenei.Pengangkatan Mojtaba Khamenei terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang kecuali melalui "penyerahan tanpa syarat".

Respons Trump soal Mojtaba Khamenei

Pada hari yang sama, Trump memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru tidak akan bertahan lama tanpa persetujuannya.

Trump sebelumnya menuntut hak untuk ikut campur dalam penunjukan pemimpin tertinggi Iran yang baru dan menolak Mojtaba Khamenei sebagai "orang yang tidak kompeten".

"Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami," kata Trump kepada ABC News, merujuk pada Mojtaba.

"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," lanjut Trump.Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa keputusan penunjukan Mojtaba tersebut sepenuhnya berada di tangan Iran. "Hal itu tidak akan memungkinkan siapa pun untuk ikut campur dalam urusan domestik kami," katanya.

Araghchi kemudian menuntut agar Trump meminta maaf kepada rakyat di kawasan Timur Tengah atas perang yang semakin memburuk.

Tak hanya Trump yang tidak senang dengan penunjukan Mojtaba sebagai penerus Ali Khamenei. Israel juga bersikap serupa, dan bahkan menjadikan Mojtaba sebagai target utama pembunuhan.

"Kami ingin memberi tahu Anda bahwa tangan Negara Israel akan terus mengejar setiap calon pengganti dan setiap orang yang berupaya menunjuk pengganti," tulis IDF di X.

"Kami memperingatkan semua orang yang berniat untuk berpartisipasi dalam pertemuan pemilihan pengganti bahwa kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda juga. Ini adalah peringatan!" lanjut IDF, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Senin (9/3/2026).

Topik Menarik