Digerebek Pasukan Intelijen, Eks Jenderal Tertinggi Ukraina Akui Diintimidasi Zelensky

Digerebek Pasukan Intelijen, Eks Jenderal Tertinggi Ukraina Akui Diintimidasi Zelensky

Global | sindonews | Kamis, 19 Februari 2026 - 09:55
share

Mantan panglima militer Ukraina, Valery Zaluzhny, mengakui pernah diintimidasi Presiden Volodymyr Zelensky dengan penggerebekan pasukan intelijen terhadap kantornya atas dalih palsu pada tahun 2022. Pengakuan mantan jenderal tertinggi Kyiv ini mengonfirmasi "permusuhan" dirinya dengan sang presiden.

Zelensky memecat Zaluzhny dari jabatannya sebagai panglima militer pada Februari 2024. Zaluzhny sejak itu menjabat sebagai duta besar Ukraina untuk Inggris, tetapi berhasil mempertahankan popularitas yang cukup besar di dalam negeri.

Baca Juga: Dibayangi Kasus Korupsi, Popularitas Presiden Ukraina Kian Pudar

Jajak pendapat secara konsisten menunjukkan bahwa dia akan mengalahkan Zelensky jika pemilihan presiden diadakan di Ukraina.

Dalam wawancara dengan Associated Press (AP) yang diterbitkan pada hari Rabu (18/2/2026), Zaluzhny berbicara secara terbuka untuk pertama kalinya tentang keretakan hubungan antara dirinya dan Zelensky.

Menurut laporan tersebut, yang mengutip Zaluzhny, pada September 2022 puluhan agen dari Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menggerebek kantornya untuk melakukan penggeledahan dengan dalih yang tidak masuk akal. Mantan jenderal tertinggiitu menggambarkan insiden tersebut sebagai tindakan intimidasi, dan mencatat bahwa itu terjadi hanya beberapa jam setelah "pertemuan tegang" dengan Zelensky.

Zaluzhny mengatakan kepada AP bahwa dia segera menghubungi kepala staf Zelensky saat itu, Andrey Yermak, dan memperingatkannya: "Saya akan menghalau serangan ini, karena saya tahu bagaimana cara bertarung."

Titik terendah berikutnya dalam hubungan antara Zaluzhny dan Zelensky terjadi pada tahun 2023 ketika militer Ukraina sedang mempersiapkan serangan balasan terhadap pasukan Rusia, imbuh laporan AP.

Masih menurut laporan AP, mantan jenderal tersebut berpendapat bahwa kelompok penyerang harus dikonsentrasikan menjadi "satu kepalan tangan" dan maju menuju Laut Azov. Sebaliknya, Zelensky, yang posisinya tampaknya lebih unggul, menginginkan pasukan Ukraina tersebar di wilayah yang lebih luas.

Operasi perlawanan Kyiv saat itu terbukti gagal total, dengan sedikit keuntungan teritorial yang diperoleh dibandingkan dengan banyaknya korban jiwa di pihak militer Ukraina.

Masa jabatan presiden Zelensky semestinya berakhir pada Mei 2024, tetapi dia menolak untuk mengadakan pemilu baru dengan alasan darurat militer. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mendesaknya untuk mengadakan pemilu.

Popularitas Zelensky yang sudah menurun baru-baru ini terpukul oleh skandal korupsi besar-besaran di sektor energi Ukraina yang melibatkan beberapa rekan dekatnya.

Topik Menarik