AS-Iran di Ambang Perang, Rusia dan China Gabung Latihan Perang Teheran
Rusia dan China akan bergabung dalam latihan perang Iran di lepas pantai negara Islam tersebut mulai Kamis (19/2/2026). Manuver gabungan ini digelar ketika Teheran dan Washington di ambang perang setelah perundingan nuklir Iran tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti.
Nikolay Patrushev, ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi keikutsertaan pasukan Moskow dalam manuver gabungan militer Teheran dan Beijing.
Baca Juga: Usai Berunding, AS dan Iran Malah Semakin Dekat Menuju Perang Besar-besaran
Menurutnya, kapal perang dari ketiga negara telah dikirim untuk manuver di perairan lepas pantai Iran. Dia mengatakan latihan ini bagian dari upaya bersama untuk membangun tatanan dunia multipolar di lautan sebagai tanggapan terhadap apa yang disebutnya sebagai hegemoni Barat yang telah berlangsung lama.
Dikenal sebagai Maritime Security Belt (Sabuk Keamanan Maritim), latihan perang dijadwalkan akan berlangsung di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, dan akan melibatkan kapal dan pesawat dari ketiga negara. Awalnya merupakan inisiatif Iran, latihan ini telah dilakukan secara trilateral sejak 2019, kecuali pada tahun 2021, ketika China tidak berpartisipasi.Patrushev mengatakan bahwa laut sekali lagi menjadi platform untuk “agresi militer” dan kebangkitan “diplomasi kapal perang", dengan mengutip ketegangan baru-baru ini di sekitar Venezuela dan Iran. “Barat mendominasi laut untuk waktu yang lama, hingga awal abad ini, tetapi sekarang hegemoni mereka dalam banyak hal telah menjadi masa lalu,” katanya.
Iran juga mengonfirmasi latihan perang gabungan tersebut, tanpa menyebut keikutsertaan China. “Latihan Angkatan Laut gabungan Republik Islam Iran dan Rusia akan berlangsung besok (Kamis) di Laut Oman dan di Samudra Hindia bagian utara,” tulis kantor berita ISNA pada Rabu, mengutip juru bicara latihan, Laksamana Muda Hassan Maghsoudloo.
“Tujuannya adalah untuk memperkuat keamanan maritim dan memperdalam hubungan antara Angkatan Laut kedua negara,” katanya.
Sementara itu, sumber-sumber pemerintah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perang dengan Iran semakin dekat. Mereka mengatakan kepada Axios bahwa sebuah operasi militer dapat berlangsung selama beberapa minggu dan mempunyai dampak yang kuat di wilayah tersebut.
Sebelum perundingan, Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat Air Force One: “Saya rasa mereka tidak menginginkan konsekuensi jika tidak membuat kesepakatan.”Seorang penasihat Trump mengatakan kepada Axios: "Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkan dia agar tidak berperang dengan Iran, tapi saya pikir ada 90 persen kemungkinan kita melihat tindakan kinetik dalam beberapa minggu ke depan."
Pada Januari lalu, pemerintahan Trump mengancam akan mengambil tindakan militer baru terhadap Iran atas program nuklirnya dan menuntut Teheran membuat kesepakatan dengan Washington.
Tuntutan itu muncul setelah perang 12 hari Israel dengan Iran pada Juni 2025, di mana AS ikut campur dengan mengebom tiga situs nuklir negara Islam tersebut.
Baru-baru ini, Trump mengatakan “armada besar” sedang dalam perjalanan ke Iran dan mendesak rezim Ayatollah Ali Khamenei untuk menghentikan pembunuhan ribuan pengunjuk rasa.
Sumber pemerintah Trump mengatakan kepada Axios bahwa operasi militer kemungkinan akan jauh lebih besar daripada serangan AS dan Israel Juni lalu, dan akan berdampak besar bagi sisa kepemimpinan Presiden Trump.AS telah membangun kehadiran militer dalam jumlah besar di wilayah tersebut, yang mencakup dua kapal induk, selusin kapal perang, ratusan jet tempur, dan berbagai sistem pertahanan udara.
Peningkatan kekuatan militer dalam jumlah besar kemungkinan besar berarti AS tidak akan menarik diri dari wilayah tersebut sampai Iran memberikan konsesi besar terhadap program nuklirnya.
Sedangkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika yang dikirim ke Timur Tengah.
Dua pejabat Israel mengatakan pemerintah Israel sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari, menurut laporan Axios, Kamis (19/2/2026). Namun, sumber-sumber AS mengatakan pemerintahan Trump mungkin memerlukan waktu lebih lama.
Para pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa militer Washington sedang bersiap untuk operasi selama berminggu-minggu jika Presiden Trump memerintahkan serangan.
Pasukan AS mulai menarik diri dari pangkalannya di Suriah sejak pekan lalu, kemungkinan mengindikasikan militernya bersiap untuk mempersiapkan respons terhadap Iran.








