Iran: Israel Bebas Perluas Persenjataan Militer, tapi Paksa Negara-negara Lain Lucuti Senjatanya
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik apa yang disebutnya sebagai “doktrin dominasi”, yang membebaskan Israel memperluas persenjataan militernya tanpa batas sambil memaksa negara-negara lain di kawasan Timur Tengah untuk melucuti senjata.
Pernyataan Araghchi disampaikan pada hari Sabtu atau sehari setelah perundingan nuklir Iran terbaru antara Teheran dengan Washington. Perundingan sebelumnya gagal ketika Israel melancarkan pengeboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran Juni lalu yang memicu perang 12 hari.
Baca Juga: Iran: Kami Siap Perang Jika Itu Maunya AS!
Araghchi berbicara di sebuah konferensi di Qatar, tetapi tidak mengungkap hasil perundingan hari Jumat dengan Amerika Serikat (AS).
Jeffrey Epstein Diminta Awasi dengan Cermat Arab Saudi saat Pembersihan Elite di Ritz Carlton
“Proyek ekspansionis Israel mengharuskan negara-negara tetangga dilemahkan: secara militer, teknologi, ekonomi, dan sosial,” kata Araghchi.
“Di bawah proyek ini, Israel bebas untuk memperluas persenjataan militernya tanpa batas. Namun negara-negara lain dituntut untuk melucuti senjata. Negara-negara lain ditekan untuk mengurangi kapasitas pertahanan. Negara-negara lain dihukum karena kemajuan ilmiah,” ujarnya.“Ini adalah doktrin dominasi," imbuh diplomat utama Iran tersebut, seperti dikutip dari AFP, Minggu (8/2/2026).Selama perang 12 hari, Israel menargetkan pejabat militer senior Iran, ilmuwan nuklir, situs-situs penting, dan daerah pemukiman, dengan AS kemudian melancarkan serangannya sendiri terhadap fasilitas nuklir utama.
Iran menanggapi pada saat itu dengan serangan drone dan rudal ke Israel, serta dengan menargetkan pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah yang terletak di Qatar.
Pada hari Jumat, Araghchi memimpin delegasi Iran dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, di Muscat, Oman.
Diplomat utama Iran itu kemudian menggambarkan suasana sebagai "sangat positif", sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan perundingan itu "sangat baik", dengan kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan negosiasi lebih lanjut.Perundingan tersebut menyusul ancaman dari Washington dan pengerahan kelompok tempur kapal induknya baru-baru ini ke Timur Tengah setelah tindakan keras Iran terhadap protes anti-pemerintah bulan lalu.
Amerika Serikat berupaya membahas program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di Timur Tengah—isu-isu yang didorong Israel untuk dimasukkan dalam perundingan.
Teheran telah berulang kali menolak untuk memperluas cakupan negosiasi di luar isu nuklir.










