Kisah Wanita Inggris Bangun dari Stroke dengan Aksen Mandarin, Padahal Belum Pernah ke Asia

Kisah Wanita Inggris Bangun dari Stroke dengan Aksen Mandarin, Padahal Belum Pernah ke Asia

Global | sindonews | Selasa, 6 Mei 2025 - 11:16
share

Seorang wanita Inggris bangun dari stroke dengan aksen yang terdengar seperti bahasa Mandarin atau China. Padadal, dia sama sekali belum pernah bepergian ke Asia.

Wanita bernama Sarah Colwill itu mengalami kondisi langka itu sejak sekitar 15 tahun lalu.

Selama belasan tahun tersebut, dia mendapat pelecehan rasial termasuk seruan orang-orang untuk "kembali ke negara asal"—meskipun dia asli Inggris.

Colwill didiagnosis dengan kondisi langka yang disebut Sindrom Aksen Asing (FAS). Hanya ada sekitar 100 kasus FAS yang diketahui sejauh ini.

Dia mengalami kondisi seperti itu setelah dia bangun dari stroke pada tahun 2010—dia berusia 35 tahun saat itu—berbicara dengan aksen yang terdengar seperti bahasa Mandarin.

Mengutip laporan dari Mail Online, Selasa (6/5/2025), Colwill, yang kini berusia 50 tahun, masih berbicara dengan aksen Mandarin.

Dokter belum dapat menentukan penyebab stroke yang dialaminya, yang menyebabkannya mengalami gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuannya untuk berjalan dan berbicara secara normal.

Sejak itu, dia menceritakan tahun-tahun perundungan yang dialaminya setelah peristiwa medis yang mengubah hidupnya, termasuk disebut sebagai "orang aneh" dan "memalukan" oleh keluarganya sendiri.

Dia juga membuka diri tentang bagaimana beberapa kelompok Kristen menuduhnya "kerasukan setan" dan membutuhkan "pengusiran setan", yang membuatnya hampir ingin bunuh diri.

Colwill mengakui bahwa beberapa tahun terakhir ini sangat sulit baginya, karena dia harus membangun kembali kemampuan bahasa dan mobilitasnya, sembari menanggung tekanan mental yang luar biasa.

Dia juga menegaskan bahwa cara bicaranya bukanlah sesuatu yang dia pilih, dan bagaimana orang lain memandang aksen atau latar belakangnya bukanlah urusan mereka.

“Saya masih tidak tahu apa yang terjadi atau apakah itu akan terjadi lagi. Sulit untuk terus memaksakan diri agar dapat berbicara lebih baik, berjalan lebih baik, dan menjadi lebih mandiri. Saya telah mencapai tujuan komunikasi dan mobilitas saya, tetapi sekarang saya perlu fokus pada kesehatan mental, harga diri, dan menemukan cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri saya,” paparnya.

Dia juga mengungkapkan harapannya bahwa suatu hari dunia akan berhenti mengkritik aksennya.

Topik Menarik