Israel Dilanda Kebakaran Terparah dalam Sejarah, Pejabat Zionis Saling Menyalahkan

Israel Dilanda Kebakaran Terparah dalam Sejarah, Pejabat Zionis Saling Menyalahkan

Global | sindonews | Jum'at, 2 Mei 2025 - 07:22
share

Israel menghadapi salah satu bencana kebakaran hutan terparah dalam sejarahnya. Lebih dari 5.000 acre (sekitar 20.000 dunam) lahan telah hangus terbakar di sekitar kawasan hutan Israel tengah dekat Yerusalem sejak hari Rabu, memicu kepanikan publik dan kekacauan politik.

Hingga Kamis, enam area masih terdampak aktif oleh kobaran api.

Meski beberapa warga yang sempat dievakuasi telah diperbolehkan kembali ke rumah, kawasan cagar alam tetap ditutup untuk umum karena alasan keselamatan.

Yayasan Nasional Yahudi (Jewish National Fund/JNF) menyebut kebakaran ini sebagai salah satu yang paling luas dalam sejarah Israel.

Pemerintah Israel pun menghadapi gelombang kemarahan publik.

Banyak pihak menilai penanganan yang buruk dan kegagalan antisipasi kebakaran sebagai akibat dari salah urus keuangan dan minimnya kesiapan. Suasana politik pun memanas akibat saling tuding antarpejabat.

Pada akhir Maret lalu, Forum Iklim Israel telah memperingatkan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk segera menggelar pertemuan darurat guna mempersiapkan musim panas dan potensi kebakaran.

Namun menurut ketua forum tersebut, Dov Khenin, peringatan itu tidak diindahkan. “Kami sudah berusaha menarik perhatiannya,” ujar Khenin.

“Tapi meskipun sudah berkali-kali mengingatkan, perdana menteri tidak juga menggelar diskusi khusus soal ini," paparnya, seperti dikutip dari Middle East Eye, Jumat (2/5/2025).

Kritik juga mengarah tajam kepada Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir.

Tomer Lotan, mantan Direktur Jenderal Kementerian Keamanan Publik, mengungkapkan bahwa dirinya pernah merekomendasikan pembelian helikopter Black Hawk pada tahun 2022 sebagai bagian dari strategi nasional penanggulangan kebakaran.

Namun, saran tersebut ditolak oleh Ben Gvir.

“Ini adalah bukti paling jelas dari bahayanya mengangkat Ben Gvir sebagai menteri,” tegas Lotan.

Sumber dari kepolisian mengatakan kepada Haaretz bahwa jika helikopter itu dibeli dua tahun lalu, upaya pemadaman kebakaran di perbukitan Jerusalem bisa jauh lebih efektif.

Dalam situasi darurat nasional ini, Israel akhirnya terpaksa meminta bantuan internasional.

Permintaan bantuan dikirim ke Yunani, Italia, Kroasia, dan beberapa negara lain untuk mendukung operasi pemadaman api.

Di tengah situasi genting, Netanyahu menyatakan bahwa 18 orang telah ditahan karena diduga melakukan pembakaran.

Namun, sejumlah sumber kepolisian membantah angka tersebut dan menyebut hanya tiga orang yang ditangkap sejauh ini. Salah satunya adalah pria berusia 50 tahun dari wilayah Umm Tuba di Yerusalem Timur yang diduga mencoba menyalakan api.

Pernyataan kontroversial juga muncul dari Yair Netanyahu, putra PM Netanyahu, yang menuding kelompok kiri sebagai dalang kebakaran.

Lewat unggahan di platform X, dia menyebut bahwa “kelompok Kaplanist kiri” tengah mencoba menggagalkan perayaan Hari Kemerdekaan Israel dan menyatakan: “Saya benar-benar berharap pembakaran ini hanya dilakukan oleh orang Arab, tanpa kolaborasi dari rakyat kita sendiri.”

Pernyataan ini dikecam luas dan dinilai sebagai bentuk hasutan terhadap warga Palestina.

Sementara itu, sejumlah media pro-pemerintah mulai mendorong narasi bahwa kebakaran adalah aksi pembakaran, meskipun belum ada bukti pasti.

Laporan cuaca sebelumnya telah memperingatkan adanya risiko tinggi kebakaran akibat musim kering yang panjang dan angin kencang.

Dinas Meteorologi Israel menyatakan bahwa area perbukitan Yerusalem telah berada dalam status waspada tinggi terhadap potensi kebakaran besar sejak beberapa hari sebelumnya.

Angin mulai melemah dan hujan ringan turun pada Kamis, sedikit meredakan kondisi. Namun, di saat yang sama, badai pasir besar juga melanda Jalur Gaza, memperparah kondisi lingkungan regional.

Topik Menarik