Profil Norman Briski, Aktor Yahudi yang Dituduh Anti-Semit Gara-gara Membela Gaza

Profil Norman Briski, Aktor Yahudi yang Dituduh Anti-Semit Gara-gara Membela Gaza

Global | sindonews | Kamis, 1 Mei 2025 - 16:09
share

Norman Briski dikenal luas sebagai aktor senior dan sutradara asal Argentina. Terlepas dari profesinya itu, ia juga menjadi sosok yang vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial dan politik internasional.

Pada satu momen, Briski pernah disorot setelah pidato penerimaannya di ajang Martin Fierro Film Awards tahun 2024. Adapun alasannya karena ia menyatakan solidaritas terhadap rakyat Palestina yang menjadi korban agresi di Gaza.

Pada pidatonya, Briski menyebut Gaza tidak akan pernah dikalahkan dan mengajak masyarakat dunia untuk menunjukkan empati terhadap penderitaan warga sipil yang tak berdaya di sana.

Namun, ucapan tersebut justru menuai reaksi keras dari berbagai kalangan, bahkan sampai ada yang menuduhnya sebagai anti-semit.

Profil Norman Briski

Norman Briski adalah seorang aktor, sutradara, dan penulis naskah senior asal Argentina. Ia lahir dari latar belakang keluarga Yahudi pada 2 Januari 1938 di Santa Fe, Argentina.

Tumbuh di Santa Fe, Briski kemudian pindah ke Cordoba. Di sini, ia mulai tertarik pada dunia akting.

Pada 1955, Briski mendapatkan peran teater pertamanya dalam La Farsa del senor Corregidor. Setelah itu, kariernya mulai berkembang dengan memperoleh peran utama dalam drama seperti Rosencrantz and Guildenstern Are Dead dan The Mother.

Sekitar awal 1970-an, Briski mendirikan kelompok teater independen bernama Octubre yang memproduksi karya-karya klasik seperti Oedipus Rex.

Namun, berbekal statusnya sebagai Peronis sayap kiri, ia kerap menerima ancaman dari Aliansi Anti-komunis Argentina, sehingga terpaksa mengungsi ke Spanyol pada 1975.

Setelah kondisi aman, ia pulang ke Argentina pada 1983. Di tanah kelahirannya, Briski melanjutkan kariernya di dunia akting.

Sejak akhir 1980-an, Briski juga diketahui aktif di televisi dan membintangi sejumlah film terkenal seperti adaptasi The Plague karya Albert Camus (1992) dan La cruz (1997).

Selain bermain akting, Briski juga dikenal sebagai penulis naskah drama dengan karya seperti Las primas, Fin de siglo, dan Cuadrilátero.

Selama kariernya yang panjang, ia diakui sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia seni Argentina dan sudah banyak meraih penghargaan bergengsi.

Pada Oktober 2024, Briski menjadi sorotan setelah pidatonya di Martín Fierro Film Awards di Buenos Aires.

Waktu itu, ia menyatakan solidaritas dengan rakyat Palestina di Gaza dan berkata warga di sana tidak akan pernah dikalahkan.

Akan tetapi, dukungan Briski terhadap Gaza justru dituduh sebagai antisemitisme, sebuah tuduhan yang ironis mengingat latar belakang etnisnya sendiri sebagai Yahudi.

Ia kemudian dengan tegas menolak label antisemitisme dan menegaskan kritiknya hanya ditujukan pada kebijakan pemerintah Israel, bukan terhadap identitas Yahudi secara keseluruhan.

Menurut Briski, membela hak-hak kemanusiaan seharusnya tidak diartikan sebagai bentuk kebencian terhadap kelompok etnis tertentu.

Demikian ulasan mengenai profil Norman Briski, aktor Yahudi yang dituduh anti-semit gara-gara membela Gaza.

Topik Menarik