Rusia Hancurkan 6 HIMARS dan 5 Peluncur Rudal Patriot di Ukraina dalam 3 Bulan

Rusia Hancurkan 6 HIMARS dan 5 Peluncur Rudal Patriot di Ukraina dalam 3 Bulan

Global | sindonews | Kamis, 21 Maret 2024 - 09:58
share

Pasukan Rusia, dalam tiga bulan pertama 2024, telah menghancurkan enam Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) dan lima peluncur rudal pertahanan Patriot di Ukraina.

Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu.

Rusia sebelumnya mengeklaim telah menghancurkan beberapa HIMARS selama perang skala penuh di Ukraina, yang dimulai sejak Februari 2022.

Rekaman online awal bulan ini untuk pertama kalinya mengonfirmasi lenyapnya HIMARS Ukraina.

Amerika Serikat telah mengirimkan 39 unit HIMARS ke Ukraina, menurut dokumen Pentagon, dan mengirimkan roket HIMARS tambahan dalam paket bantuan yang diumumkan awal bulan ini.

Baca Juga: Rusia-Prancis di Ambang Perang, Ini Perbandingan Kekuatan Militernya

Ukraina memuji kinerja HIMARS dan memiliki sikap serupa terhadap Patriot, yang dianggap mampu mencegat rudal hipersonik Rusia dan dianggap sebagai standar emas sistem pertahanan udara.

Kyiv telah melobi keras untuk mendapatkan lebih banyak sistem rudal Patriot. Amerika telah mengirimkan satu baterai hingga saat ini, dan Kyiv memperoleh beberapa sistem dari sumber lain.

Setiap baterai Patriot memiliki beberapa peluncur yang memuat dan menembakkan rudal.

Laporan Newsweek pada Kamis (21/3/2024) menyebutkan bahwa pada awal bulan ini serangan rudal Rusia menghancurkan dua peluncur Patriot yang sedang dalam perjalanan bersama konvoi pasukan Ukraina.

Pasukan Ukraina telah menempatkan baterai Patriot di dekat garis depan, namun tidak jelas berapa banyak peluncur yang berhasil ditargetkan Rusia. Demikian disampaikan Marina Miron, peneliti pascadoktoral di Departemen Studi Perang di King's College London, kepada Newsweek.

Sejak awal tahun 2024, Rusia mengeklaim telah menghancurkan serangkaian peralatan yang dipasok oleh Barat dan dioperasikan oleh Ukraina.

Analis Barat dan sumber-sumber Ukraina menyatakan bahwa Rusia telah menyesuaikan tekniknya, mempersingkat waktu antara menemukan aset-aset utama Ukraina dan menyerang peralatan sebelum Kyiv dapat memindahkan sistem seperti HIMARS ke tempat lain.

Shoigu juga mengeklaim pada hari Rabu bahwa Kyiv telah kehilangan empat tank Abrams buatan AS, 27 kendaraan tempur infanteri Bradley, dan lima tank Leopard buatan Jerman.

Militer Ukraina belum bersedia berkomentar atas klaim Shoigu.

Brigade Mekanik Terpisah ke-47 Ukraina menggunakan Abrams dan Bradley dalam bentrokan sengit di sekitar kota Avdiivka di Donetsk, yang direbut Rusia pada pertengahan Februari, dan dalam pertempuran berikutnya di sebelah barat pemukiman strategis tersebut.

Menurut Miron, tank-tank Barat seperti Abrams baru saja mencapai garis depan pertempuran, namun operasi mereka tertahan oleh gempuran Rusia.

Dia mengatakan dengan terbatasnya kemampuan Ukraina untuk menyamarkan peralatan utamanya, dan fakta bahwa tank-tank berat Barat tidak cocok untuk medan berlumpur di seluruh Ukraina, Moskow lebih berhasil dalam menghancurkan peralatan Kyiv.

Shoigu, dalam pernyataannya, menambahkan bahwa Ukraina telah menderita sekitar 71.000 korban jiwa sejak Januari 2024.

Angka ini sangat mirip dengan jumlah korban di pihak Rusia yang dikemukakan oleh militer Ukraina. Berdasarkan penghitungan di Kyiv, korban di pihak Rusia sepanjang tahun ini berjumlah sekitar 72.000 jiwa.

Jumlah korban luka dan korban jiwa di zona konflik sangat tidak jelas, dan para analis menyarankan agar berhati-hati dengan angka-angka yang diterbitkan oleh negara-negara yang sedang berperang.

Para pakar memperkirakan kedua belah pihak kemungkinan membesar-besarkan kerugian yang dilaporkan pihak lain, dan baik Moskow maupun Kyiv tidak biasa memberikan indikasi mengenai kerusakan yang ditimbulkan pada militer mereka sendiri.

Rusia kemungkinan telah menderita lebih dari 335.000 korban jiwa sejak Februari 2022, kata Kementerian Pertahanan Inggris awal bulan ini.

Topik Menarik