Marah pada Allah SWT karena Doa Belum Terkabul? Baca Nasihat Ulama Besar Ini
Mengapa seseorang terkadang marah kepada Allah SWTketika doa-doanya belum juga dikabulkan? Padahal, setiap hamba diperintahkan untuk memohon pertolongan dan menggantungkan harapan hanya kepada-Nya. Namun, tidak sedikit orang yang justru kecewa ketika keinginannya belum terwujud.
Dalam Islam, doa merupakan bentuk penghambaan sekaligus pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena itu, seorang Muslim semestinya tidak mudah berputus asa, apalagi menyalahkan Allah ketika permohonannya atau doa belum dikabulkan.
Ulama besar, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, memberikan nasihat mendalam mengenai persoalan ini. Dalam kitab Futuh Al-Ghaib, beliau mengingatkan agar manusia tidak mempertanyakan kebijaksanaan Allah hanya karena doa yang dipanjatkannya belum mendapatkan jawaban sesuai harapan.
Beliau mengajak manusia merenungkan hakikat dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk.Baca juga:Tak Melulu Pergi Liburan, Ini 4 Cara Healing Terbaik yang Diajarkan Islam"Apakah engkau seorang yang merdeka atau seorang hamba? Jika engkau mengatakan bahwa dirimu merdeka, berarti engkau tidak beriman. Jika engkau mengakui sebagai seorang hamba, apakah salah jika Tuhan menunda pengabulan doamu? Apakah engkau meragukan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya kepadamu serta kepada seluruh makhluk-Nya, juga pengetahuan-Nya atas segala keadaan mereka? Apakah engkau berani menyalahkan-Nya?" demikian nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Futuh Al-Ghaib.
Menurut beliau, apabila seseorang tidak menyalahkan Allah dan menerima kebijaksanaan-Nya dalam menunda pengabulan doa, maka sudah semestinya ia bersyukur. Sebab, Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Sebaliknya, menyalahkan Allah atas doa yang belum terkabul merupakan sikap yang tidak pantas dilakukan seorang hamba. Hal itu seolah-olah menisbatkan ketidakadilan kepada Allah, padahal Dia adalah Pemilik seluruh alam semesta.
Allah memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu yang menjadi milik-Nya. Karena itu, ketidakadilan tidak mungkin dinisbatkan kepada-Nya. Sebab, ketidakadilan pada hakikatnya merupakan tindakan melampaui batas terhadap hak milik pihak lain tanpa izin pemiliknya.
Sabar dan Berbaik Sangka kepada Allah
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani juga mengingatkan agar manusia tidak larut dalam kekesalan ketika ketentuan Allah tidak sesuai dengan keinginannya. Bahkan, ketika suatu peristiwa secara lahiriah terasa merugikan, seorang hamba tetap dituntut untuk bersyukur, bersabar, dan menerima ketetapan-Nya dengan penuh keridhaan.Manusia juga harus membuang rasa kesal dan sikap membangkang yang bersumber dari hawa nafsu. Sebab, sikap tersebut dapat menjauhkan seseorang dari jalan Allah.Beliau menegaskan bahwa seorang Muslim harus terus berdoa, berbaik sangka kepada Allah, menantikan pertolongan-Nya, serta meyakini janji-janji-Nya. Selain itu, seorang hamba hendaknya senantiasa menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjaga kemurnian tauhid.
Alih-alih menyalahkan Allah, manusia justru perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Sebab, kekurangan, dosa, dan ketidakpatuhan sering kali bersumber dari perilaku manusia itu sendiri.
Mengenal Sejarah dan Evolusi Batik Indonesia, dari Warisan Tradisional hingga Fashion Modern
Dalam nasihatnya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengingatkan agar manusia tidak terlalu mengikuti keinginan diri sendiri. Hawa nafsu merupakan salah satu musuh terbesar yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.
Untuk memperkuat nasihat tersebut, beliau mengutip sejumlah ayat Al-Qur'an sebagai pengingat agar manusia senantiasa bersyukur dan melakukan introspeksi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Adakah Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?" (QS An-Nisa: 147).
Dalam ayat lainnya, Allah juga mengingatkan:
"Itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS Ali Imran: 182).
Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri." (QS Yunus: 44).Melalui ayat-ayat tersebut, manusia diajak menyadari bahwa setiap keadaan harus dihadapi dengan keimanan, kesabaran, dan introspeksi diri.
Di akhir nasihatnya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani menyerukan agar setiap Muslim bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya demi Allah.
"Jadilah komandan pasukan Allah, sebab kedirianmu adalah musuh terbesar di antara musuh-musuh terbesar Allah," demikian pesan beliau.
Nasihat ini mengajarkan bahwa doa yang belum terkabul bukan alasan untuk marah kepada Allah. Sebaliknya, keadaan tersebut semestinya menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan hati kepada-Nya.
Baca juga:Kisah Sa’ad bin Hisyam, Ingin Membujang Seumur Hidup hingga Ditegur Aisyah RA








