Sering Kesemutan hingga Nyeri Otot, Kapan Harus Periksa ke Dokter Saraf?
JAKARTA, iNews.id - Kesemutan, nyeri otot, hingga gangguan tidur kerap dianggap sebagai keluhan biasa yang bisa hilang dengan sendirinya. Namun, jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, sering kambuh, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat perlu mewaspadainya.
Sebab, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan gangguan sistem saraf yang membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut. Sistem saraf memiliki peran penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, mulai dari gerakan, sensasi, hingga kemampuan mengingat. Gangguan pada sistem ini dapat menimbulkan beragam gejala, tergantung bagian saraf yang terdampak.
Salah satu keluhan yang perlu diperhatikan adalah kesemutan yang berlangsung lama atau sering berulang. Meski dapat disebabkan posisi tubuh yang menekan saraf, kondisi tersebut juga bisa berkaitan dengan gangguan saraf tepi.
Selain itu, nyeri otot yang tidak kunjung membaik, gangguan gerak, hingga masalah memori dan kognitif juga perlu mendapatkan perhatian. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.
Gangguan neurologis tidak hanya berkaitan dengan sakit kepala atau stroke. Masalah pada sistem saraf juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang menggerakkan tubuh, merasakan sentuhan, tidur, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Untuk mengevaluasi kondisi tersebut, dokter dapat merekomendasikan sejumlah pemeriksaan neurologi sesuai gejala dan indikasi medis pasien.
Salah satunya Electromyography–Nerve Conduction Velocity (EMG-NCV), yakni pemeriksaan untuk mengevaluasi fungsi otot dan saraf tepi. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter menilai keluhan seperti kelemahan otot atau kesemutan yang dicurigai berkaitan dengan gangguan saraf.
Ada pula Transcranial Doppler (TCD) untuk mengevaluasi aliran darah di pembuluh darah otak. Sementara Carotid Duplex digunakan untuk menilai kondisi pembuluh darah karotis di leher yang berperan memasok darah ke otak.
Berbagai pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari layanan neurologi Neuro360 yang diperkenalkan Dharma Nugraha Hospital di Rawamangun, Jakarta Timur, pada Rabu (28/10/2026).
Layanan ini mencakup evaluasi risiko stroke, gangguan saraf tepi, gangguan tidur, masalah memori dan kognitif, serta gangguan gerak. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan kebutuhan dan indikasi medis masing-masing pasien.
Selain gangguan saraf, nyeri otot juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat mengganggu aktivitas fisik. Rasa tidak nyaman setelah berolahraga memang bisa terjadi, tetapi nyeri yang menetap atau berulang sebaiknya dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.
Salah satu metode penanganan yang dapat digunakan pada kondisi tertentu adalah dry needling. Teknik ini menggunakan jarum tipis steril yang dimasukkan ke area otot tertentu untuk membantu menangani nyeri otot dan gangguan muskuloskeletal.
Metode lainnya adalah localized cryotherapy atau terapi menggunakan suhu dingin yang diarahkan pada area tubuh tertentu. Terapi ini dapat digunakan sebagai penunjang penanganan nyeri pada kondisi tertentu.
Meski demikian, kedua metode tersebut tidak otomatis cocok untuk semua jenis nyeri. Pemilihan terapi harus mempertimbangkan penyebab keluhan, kondisi kesehatan pasien, serta hasil pemeriksaan tenaga medis.
Pada kondisi tertentu, pasien juga membutuhkan rehabilitasi atau penanganan lain untuk mengatasi penyebab utama nyeri, bukan sekadar meredakan gejalanya.
Masyarakat juga perlu mengenali gejala stroke yang membutuhkan penanganan darurat. Di antaranya wajah tiba-tiba menurun pada satu sisi, kelemahan mendadak pada lengan atau tungkai, serta gangguan bicara yang muncul secara tiba-tiba.
Jika mengalami gejala tersebut, pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat dan tidak menunggu jadwal konsultasi dokter. Captain of Neuro360, dr Zicky Yombana Babeheer mengatakan pemahaman mengenai kesehatan saraf penting karena sistem tersebut berkaitan erat dengan berbagai fungsi tubuh.
“Kami ingin membantu masyarakat memahami bahwa kesehatan saraf berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari gerakan tubuh, tidur, fungsi memori, hingga aktivitas fisik. Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, pasien dapat memperoleh arahan medis yang sesuai dengan kebutuhannya,” ujar dr Zicky dalam Health Talk and Opening Ceremony Dharma Nugraha Hospital, Jakarta.
Mengenali gejala sejak dini dan tidak mengabaikan keluhan yang menetap, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan saraf serta mempertahankan kualitas hidup.









