Riset: Bahaya Sering Berpikir Negatif, Otak Bisa Anggap Hal Salah Jadi Benar
PERNAHKAH kamu merasa tidak cukup pintar atau meragukan kemampuan diri sendiri secara terus-menerus? Waspada, kebiasaan berpikir negatif ternyata bisa membuat otak menganggap hal-hal salah bahkan bia jadi sebuah kebenaran.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa otak manusia memiliki mekanisme unik yang dapat "tertipu" oleh pemikiran yang terus-menerus diulang. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja jalur saraf di dalam otak.
“Gue berusaha mengurangi pikiran negatif setelah baca jurnal ini. Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa otak kita bisa ‘tertipu’ oleh pikiran kita,” ungkap dr. Adam dalam utas di akun Threads miliknya.
1. Efek Ilusi Kebenaran
dr. Adam merujuk pada temuan ilmiah dalam studi Systematic review and meta-analysis of the evidence for an illusory truth effect and its determinants. Pengulangan informasi termasuk dialog batin (self-talk) membuat otak memprosesnya dengan lebih mudah sehingga memicu efek ilusi kebenaran (illusory truth effect).
“Kalau kita sering ‘mengulang’ suatu pemikiran, maka otak kita bisa percaya loh, termasuk pemikiran negatif. Meskipun pemikiran kita itu gak bener,” jelas dia.
dr. Adam menggambarkan mekanisme kerja otak ini ibarat sebuah jalur jalan setapak di tengah hutan. Semakin sering dilalui, jalan tersebut akan semakin lebar dan mudah diakses.
“Contohnya, misalnya lo sering mikir kalo lo gak pinter, ya otak lo akan percaya itu. Otak lebih memilih rasa familiar karena jalur sarafnya sering dipakai, jadi lebih kuat. Ibaratnya kaya jalan setapak yang semakin lebar karena sering dilalui,” tutur dr. Adam.
2. Bekerja 2 Arah
Kabar baiknya, mekanisme pengulangan ini bekerja dua arah. Pola yang sama bisa dimanfaatkan untuk membangun kesehatan mental yang lebih baik melalui bentuk afirmasi positif.
“Nah untungnya, mekanisme pengulangan ini bisa dipakai untuk hal yang baik bagi diri kita. Misalnya percaya bahwa kita mampu dan pintar,” tambah dia.
Meski demikian, dr. Adam mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam afirmasi positif yang berlebihan atau tidak realistis. Pilihan kata saat melakukan afirmasi harus tetap masuk akal agar tidak berbalik memicu gangguan psikologis baru.
“Tapi ingat, afirmasinya tidak bisa yang ‘terlalu jauh’ atau malah tidak masuk akal, karena ujungnya bisa terjadi stress karena disonansi kognitif,” pungkas dia.










