Sering Sakit Perut dan Asam Lambung Kambuh? Waspadai 4 Gangguan Pencernaan Ini
JAKARTA, iNews.id - Sakit perut yang sering kambuh, asam lambung naik, hingga perubahan pola buang air besar tidak boleh terus dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa. Keluhan tersebut bisa berkaitan dengan berbagai masalah pencernaan, mulai dari gastroesophageal reflux disease (GERD) dan batu empedu hingga kanker usus besar serta kanker rektum.
Gangguan pencernaan memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan, sedangkan kondisi tertentu membutuhkan pemeriksaan lanjutan hingga tindakan operasi.
Dokter spesialis bedah digestif Bethsaida Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), menjelaskan penanganan gangguan pencernaan harus disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi setiap pasien. Operasi tidak selalu menjadi pilihan pertama.
“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” ujar dr Eko.
Berikut empat gangguan pencernaan yang perlu dikenali.
1. GERD, Asam Lambung Naik Berulang
Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan gejala, seperti sensasi terbakar di dada atau rasa asam di mulut. Keluhan dapat berulang dan mengganggu aktivitas jika tidak ditangani dengan tepat.
Penanganan GERD umumnya dimulai dengan perubahan gaya hidup dan pemberian obat sesuai anjuran dokter. Pasien dapat diminta mengatur pola makan serta menghindari faktor yang memicu gejala.
Jika keluhan tetap muncul meski pengobatan telah dilakukan secara optimal, dokter dapat mengevaluasi kemungkinan tindakan antirefluks. Keputusan tersebut bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi pasien.
2. Batu Empedu
Batu empedu terbentuk ketika material tertentu dalam cairan empedu mengeras dan membentuk batu di kantong empedu. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri, terutama di perut kanan atas, meskipun sebagian orang tidak mengalami gejala.
Jika batu empedu menimbulkan keluhan atau komplikasi, dokter dapat mempertimbangkan operasi pengangkatan kantong empedu. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah laparoskopi, yaitu operasi dengan sayatan kecil.
Pada pasien tertentu, teknik ini dapat membantu mempercepat pemulihan dibandingkan operasi terbuka. Namun, pilihan tindakan tetap disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien dan tingkat kesulitan kasus.
3. Kanker Usus Besar
Kanker usus besar merupakan penyakit ketika sel abnormal tumbuh di usus besar. Gejalanya dapat berupa perubahan pola buang air besar yang menetap, darah pada tinja, sakit perut, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker. Namun, keluhan yang menetap perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Dokter dapat merekomendasikan kolonoskopi untuk memeriksa bagian dalam usus besar. Jika ditemukan kelainan, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan, yang dapat mencakup operasi sesuai kondisi pasien.
4. Kanker Rektum
Kanker rektum terjadi ketika sel kanker tumbuh di rektum, bagian akhir usus besar sebelum anus. Gejalanya dapat meliputi perubahan kebiasaan buang air besar, perdarahan dari anus, serta rasa tidak tuntas setelah BAB.
Penanganan kanker rektum ditentukan berdasarkan lokasi dan karakteristik tumor, tingkat penyebaran, serta kondisi pasien. Pada kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan prosedur Intersphincteric Resection (ISR) untuk mengangkat kanker dengan tetap mempertahankan fungsi anus apabila memungkinkan.
“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” ujar dr. Eko.
Tidak semua pasien memenuhi kriteria untuk menjalani prosedur tersebut. Karena itu, keputusan tindakan harus didasarkan pada evaluasi tim medis.
Pemeriksaan Penting untuk Menentukan Diagnosis
Kreator Konten Danu Alqamara Gaet 2 Juta Pengikut di TikTok, Berawal dari Video Slowmo sejak Pandemi
Untuk memastikan penyebab gangguan pencernaan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan sesuai gejala dan dugaan penyakit. Pemeriksaan dapat meliputi endoskopi untuk mengevaluasi saluran pencernaan bagian atas, kolonoskopi untuk melihat usus besar dan rektum, serta pencitraan medis seperti CT scan atau MRI.
Nyeri perut yang terus berulang, asam lambung yang tidak membaik, atau perubahan pola BAB yang menetap sebaiknya tidak diabaikan. Segera cari pertolongan medis jika sakit perut terasa sangat hebat atau mendadak, disertai muntah darah, BAB berdarah atau hitam, maupun pingsan.
Meski tidak semua keluhan pencernaan menandakan penyakit serius, pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat. Terapi bisa berupa perubahan gaya hidup, obat-obatan, pemeriksaan lanjutan, atau operasi jika diperlukan.










