Sering Dikira Masuk Angin, Ini Gejala Serangan Jantung yang Wajib Diwaspadai
Badan terasa tidak enak, lemas, berkeringat, atau merasa seperti sedang masuk anginsering kali dianggap sebagai keluhan ringan. Akibatnya, banyak orang memilih sekadar beristirahat, minum obat, atau melakukan kerokan sebelum kembali beraktivitas.
Namun, keluhan yang terasa seperti gejala masuk angin itu ternyata tak boleh dianggap sepele. Bisa jadi keluhan yang dianggap biasa itu ternyata berkaitan dengan kondisi medis yang lebih serius, misalnya gangguan pada jantung.
Chairman & Founder Siloam Heart Hospital, Professor in Interventional Cardiology, Prof. Dr. Harry Suryapranata, MD, PhD, FESC, FACC, FIHA menjelaskan, bahwa serangan jantung akut terjadi ketika pembuluh darah koroner yang sebelumnya mengalami penyempitan kemudian tersumbat secara tiba-tiba oleh bekuan darah.
Baca Juga : Wanita Punya Proteksi Alami dari Serangan Jantung, Tapi Bisa Hilang karena Ini
Masalahnya, orang biasanya tidak langsung sadar bahwa kondisi yang dialaminya membutuhkan pertolongan medis. Ia pun membagikan sebuah pengalaman yang pernah ditemuinya terkait pasien serangan jantung. Pasien tersebut sempat mengira kondisi yang dialaminya sebagai “masuk angin” sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan medis. Prof Harry menjelaskan, cerita itu menjadi gambaran bahwa seseorang perlu berhati-hati ketika mengalami kondisi yang tidak biasa.
Sebab, penanganan serangan jantung memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan keputusan medis yang cepat. Prof Harry menjelaskan, ketika terjadi serangan jantung akut akibat pembuluh darah yang tersumbat total, tujuan utama penanganan adalah mengembalikan aliran darah ke otot jantung sesegera mungkin.
Baca Juga : Apa Itu Angin Duduk? Begini Pencegahan dan Gejala yang Harus Diwaspadai
“Dulu kita punya thrombolytic therapy, yaitu kita kasih blood thinner. Tapi itu ada komplikasinya, yaitu perdarahan,” ujar Prof Harry dalam Media Session Heart Festival 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Terapi trombolitik merupakan salah satu metode yang digunakan untuk membantu melarutkan bekuan darah. Namun, seperti terapi medis lainnya, metode ini memiliki risiko dan penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.“Logikanya, kalau pembuluh darah tersumbat, harus dibuka secepat mungkin,” kata Prof Harry.
Kembali pada istilah “masuk angin”, Prof Harry tidak mengatakan bahwa setiap keluhan yang disebut masyarakat sebagai masuk angin merupakan tanda serangan jantung.
Namun, pengalaman yang ia ceritakan menunjukkan pentingnya membedakan keluhan ringan yang bisa ditangani dengan istirahat dari kondisi yang sebenarnya membutuhkan pemeriksaan medis.
Bahkan dalam kasus yang ia ceritakan, seorang pasien sempat menganggap kondisinya sebagai masuk angin dan menjalani kerokan sebelum akhirnya ditangani di rumah sakit. Mirisnya, setelah mendapatkan terapi untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah, pasien tersebut justru mengalami komplikasi perdarahan.
“Dia meninggalnya bukan karena serangan jantung, tapi karena perdarahan,” ungkap Prof Harry.Kisah itu tidak serta-merta berarti kerokan menjadi penyebab kematian pasien. Komplikasi yang dialami pasien terjadi setelah mendapatkan terapi trombolitik, yang memang memiliki risiko perdarahan.
Yang ingin ditekankan adalah pentingnya mengenali kondisi tubuh dan tidak buru-buru menyimpulkan penyebab suatu keluhan hanya berdasarkan istilah sehari-hari.
Terlebih ketika keluhan terasa berat, muncul secara tiba-tiba, menetap, atau disertai kondisi lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.








