Badan Lemas dan Berkeringat Sering Dikira Masuk Angin, Waspadai Gejala Serangan Jantung

Badan Lemas dan Berkeringat Sering Dikira Masuk Angin, Waspadai Gejala Serangan Jantung

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 26 September 2026 - 19:18
share

JAKARTA, iNews.id - Badan terasa tidak enak, lemas, berkeringat, atau merasa seperti sedang “masuk angin” kerap dianggap sebagai keluhan ringan. Padahal, kondisi tersebut tidak selalu boleh disepelekan karena bisa berkaitan dengan masalah medis yang lebih serius, termasuk gangguan pada jantung.

Chairman & Founder Siloam Heart Hospital sekaligus Professor in Interventional Cardiology, Profesor Dr Harry Suryapranata, MD, PhD, FESC, FACC, FIHA menjelaskan, serangan jantung akut terjadi ketika pembuluh darah koroner yang sebelumnya mengalami penyempitan kemudian tersumbat secara tiba-tiba oleh bekuan darah.

Menurut Prof Harry, salah satu tantangannya adalah pasien terkadang tidak menyadari bahwa kondisi yang dialaminya membutuhkan pertolongan medis. Dia pun membagikan pengalaman yang pernah ditemuinya terkait pasien serangan jantung.

Pasien tersebut sempat mengira kondisi yang dialaminya sebagai “masuk angin” sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan medis. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya berhati-hati ketika tubuh mengalami keluhan yang tidak biasa.

Sebab, penanganan serangan jantung membutuhkan keputusan medis yang cepat. Ketika terjadi serangan jantung akut akibat pembuluh darah yang tersumbat total, tujuan utama penanganan adalah mengembalikan aliran darah ke otot jantung sesegera mungkin.

“Dulu kita punya thrombolytic therapy, yaitu kita kasih blood thinner. Tapi itu ada komplikasinya, yaitu perdarahan,” ujar Prof Harry dalam Media Session Heart Festival 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Terapi trombolitik merupakan salah satu metode yang digunakan untuk membantu melarutkan bekuan darah. Namun, seperti terapi medis lainnya, metode tersebut memiliki risiko sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

“Logikanya, kalau pembuluh darah tersumbat, harus dibuka secepat mungkin,” kata Prof Harry.

Terkait istilah “masuk angin”, Prof Harry tidak mengatakan bahwa setiap keluhan yang disebut masyarakat sebagai masuk angin merupakan tanda serangan jantung. Namun, pengalaman yang dia ceritakan menjadi gambaran bahwa seseorang perlu membedakan keluhan ringan dengan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis.

Dalam kasus yang diceritakan Prof Harry, seorang pasien sempat menganggap kondisinya sebagai masuk angin dan menjalani kerokan sebelum akhirnya mendapatkan penanganan di rumah sakit.

Setelah mendapatkan terapi untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah, pasien tersebut mengalami komplikasi berupa perdarahan.

“Dia meninggalnya bukan karena serangan jantung, tapi karena perdarahan,” kata Prof Harry.

Kisah tersebut tidak berarti kerokan menjadi penyebab kematian pasien. Komplikasi yang dialami pasien terjadi setelah mendapatkan terapi trombolitik, yang memiliki risiko perdarahan.

Sebab itu, keluhan seperti badan terasa sangat lemas, berkeringat, atau kondisi tubuh yang terasa tidak biasa sebaiknya tidak langsung disimpulkan sebagai masuk angin. Terlebih jika keluhan terasa berat, muncul secara tiba-tiba, atau menetap.

Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan penanganan yang sesuai. Pada kondisi yang dicurigai sebagai serangan jantung, kecepatan mendapatkan pertolongan menjadi bagian penting dalam penanganannya.

Topik Menarik