Calon Guru UPH Belajar Puisi Esai untuk Menumbuhkan Kepekaan Kemanusiaan

Calon Guru UPH Belajar Puisi Esai untuk Menumbuhkan Kepekaan Kemanusiaan

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 23 September 2026 - 22:19
share

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Teachers College Universitas Pelita Harapan (UPH) bersama Denny JA Foundation menggelar Pelatihan Penulisan Puisi Esai bertema “Dari Calon Guru, Tumbuh Generasi Penulis”. Program di Kampus UPH ini dirancang bagi 30 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan.

Kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Teachers College UPH Pitaya Rahmadi dan Direktur Denny JA Foundation Nita Lusaid yang bertindak sebagai fasilitator. Adapun sebagai narasumber adalah pengajar, penyair, dan penggerak puisi esai Dhenok Kristianti dan Ketua Koordinator Puisi Esai Indonesia Monica JR. Dhenok juga mendampingi pengembangan karya sebagai mentor dan editor.

Sebelum mengenalkan puisi esai, Monica membacakan karya Denny JA berjudul “Jangan Bully Aku, Aku Bisa Buat Bom”. Puisi itu dipilih karena relevansinya dengan kasus perundungan di sekolah, mengajak peserta melihat luka anak-anak yang dikucilkan, dan pentingnya kehadiran guru yang peduli.

Baca juga: 7 Istilah Anak Muda yang Sudah Masuk KBBI, Ada Kepo hingga Mager

Melalui pembacaan itu, tim penyelenggara berharap para mahasiswa calon guru lulusan UPH peka terhadap anak-anak yang tersisih. Kepekaan itu diharapkan mendorong mereka mengenali penderitaan yang sering tersembunyi, mendengarkan suara anak, dan membangun ruang belajar yang membuat setiap siswa merasa diterima.

Puisi esai diperkenalkan sebagai genre sastra yang mengemban mandat budaya untuk meningkatkan martabat manusia. Dengan mempertemukan fakta, imajinasi, dan bahasa puitik, puisi esai mengajak pembaca memahami pengalaman sesama serta menumbuhkan kepedulian terhadap mereka yang suaranya jarang terdengar.

"Pada acara ini peserta mempelajari cara menggali ide, melakukan riset sederhana, menentukan tokoh dan konflik, serta mengolah realitas menjadi narasi puitik. Praktik menulis dan umpan balik menjadi bagian dari pelatihan, dengan penekanan pada akurasi fakta dan penghormatan terhadap martabat subjek," ujarnya, Rabu (23/9/2026).

Program pendampingan ini bakal direncanakan berlanjut melalui Zoom dan grup WhatsApp. Karya yang memenuhi standar kurasi dan penyuntingan direncanakan dihimpun dalam antologi digital serta diproses untuk memperoleh ISBN. Melalui pengalaman ini, para calon guru diharapkan membawa kecintaan pada sastra dan kepedulian terhadap manusia ke ruang kelas.

Topik Menarik